Stereotipikal Anak Kolong

Lingkungan keluarga dan pola asuh anak sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan kepribadian seseorang, termasuk aku yang dibesarkan dalam keluarga tentara. Anak kolong demikianlah biasa orang menyebut “golongan”-ku dan saudara-saudaraku. Sebagaimana biasanya pula anak kolong, aku dan para saudaraku juga biasa dididik dengan keras oleh Bapak, seorang perwira TNI idealis, alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, Jawa Tengah, tahun 1961.

Aku beruntung sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara. Mulai dari SD hingga SMA, aku dididik relatif lebih keras ketimbang kakak-kakakku yang lain. Paling sering mendapat hukuman fisik, dan paling sering disuruh “injak-injak” badan Bapak, hampir setiap hari hingga aku lulus SMA. 

Selama masih aktif sebagai perwira TNI, Bapak pernah bertugas di Timor-Timur (sekarang Timor Leste) pada masa-masa awal integrasi Timor-Timur. Salah satu dampak dari penugasan tersebut adalah Bapak hingga akhir hayatnya mengalami insomnia, kesulitan tidur dan hampir selalu terjaga dari malam hingga pagi. Salah satu cara untuk memudahkan beliau untuk tidur adalah meminta anak-anak lelakinya untuk menginjak-injak punggung dan kaki belakang beliau sampai beliau terlelap.

Entah kenapa, dibandingkan kakak-kakakku yang lain, akulah yang paling sering mendapat tugas menginjak-injak beliau, setidaknya mulai aku kelas 3 atau 4 SD. Padahal hingga SMA, tubuhku paling kurus dan kerempeng dibanding 4 kakak laki-laki. Bukan hal yang luar biasa, dan relatif rutin, Bapak membangunkan aku pada rentang waktu antara pukul 01.00 – 04.00 dini hari hanya untuk memijit atau menginjak-injak beliau. 

“Jangan mentang-mentang kamu anak bungsu, lalu maunya dimanja.” Demikian pesan yang pernah disampaikan Bapak kepadaku. Waktu pertama kali dapat pesan seperti itu sih, aku sempat membatin jika aku engga perlu dimanja tapi juga jangan mendapat perlakuan lebih keras. Hehehe.

Sikap dan cara mendidik Bapak berubah total ketika aku berhasil lolos UMPTN tahun 1994. Aku berhasil diterima di Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gajah Mada, Jogja, sesuai keinginan Bapak. Sikap beliau menjadi jauh lebih lunak dan sangat toleran. Aku bahkan diperbolehkan memanjangkan rambut hingga hampir sepinggang dan memasang tindik di telinga. Padahal, hingga aku SMA, jika rambutku sudah menyentuh dan mulai menutupi ujung daun telingaku, beliau langsung menyuruhku untuk potong rambut. Hal yang tak kalah mengagetkan adalah beliau juga tidak marah ketika aku ketahuan bertato. Beliau hanya mengungkapkan kekecewaan karena dengan adanya tato itu, hilanglah kesempatanku untuk meneruskan jejak Bapak untuk memasuki dunia kemiliteran.

Sesungguhnyalah, alasan utama-ku untuk membuat tato adalah agar aku tidak perlu meneruskan jejak Bapak menjadi anggota TNI/POLRI. Waktu aku lulus SMA, Bapak hanya memberikan aku 3 pilihan: Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, masuk AKABRI atau bekerja. Tidak ada opsi kuliah di perguruan tinggi swasta. Puji Tuhan aku berhasil lolos UMPTN, yang berarti aku tidak perlu masuk AKABRI. Namun, sejak awal aku kuliah, Bapak seringkali mendorong aku untuk menjadi Perwira TNI melalui jalur Perwira Karir. Sungguh, ide itu sangat tidak menarik buatku. Bertentangan dengan hasrat diriku akan kebebasan berpikir dan bertindak.

Selain itu, waktu itu aku ada keinginan untuk bisa mendapatkan banyak uang dengan cara yang halal. Satu hal yang aku yakini tidak akan bisa aku ujudkan jika aku menjadi anggota TNI/POLRI, setidaknya waktu itu. Keyakinan itu sendiri muncul karena didikan Bapak adalah juga hidup jujur dan sederhana.  Penghasilan beliau murni hanya dari gajinya sebagai anggota TNI yang memang pas-pasan bagi keluarga besar seperti kami. Beliau berhemat pada banyak hal untuk memastikan kami anak-anaknya dapat menempuh pendidikan tinggi.

Hmm.. Jika Bapak masih bisa melihatku saat ini dari surga, semoga beliau bangga akan pencapaianku, dan itu sudah pasti karena keberhasilan beliau mendidikku, meski mungkin dengan cara yang tidak sesuai dengan kenyamananku. Integritas, Kepemimpinan yang kuat dengan tekad yang juga kuat serta kecepatan & ketepatan bertindak adalah juga kemampuan unggul-ku yang juga buah dari pendidikan beliau.

Terima kasih Bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s