Suami Ideal adalah Pendaki Gunung

Suami Pendaki Gunung

Entah siapa yang membuat sticker keren ini,  tapi aku setuju banget ama kata-katanya! Hehehe..
Memasuki tahun pertama aku kuliah, tahun 1994, aku bergabung dengan Kelompok Pencinta Alam & Lingkungan Hidup Setrajana, FISIPOL UGM. Bisa dibilang, aku jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan Setrajana ketimbang di bangku kuliah. Tidak heran, jika teman-teman yang mengambil satu jurusan denganku di Ilmu Hubungan Internasional bisa lulus dalam waktu 4-5 tahun, sementara aku membutuhkan waktu 6,5 tahun untuk kemudian berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Politik. Masih ingat kan istilah “Mapala”, mahasiswa paling lama? Entah apakah saat ini istilah tersebut masih sering dikaitkan dengan anak-anak pencinta alam ataukah tidak.

Bukanlah omong kosong jika aku bilang bahwa selain pendidikan orang tua, kegiatan kepencintaalaman yang aku ikut memberikan sumbangan lebih besar ketimbang ilmu dan teori-teori yang aku peroleh di atas bangku kuliah. Kegiatan kepencintalaman tidak saja menyenangkan, melainkan juga mengembangkan kemampuan organisasional dan manajerial, bekerjasama dalam tim sekaligus juga meningkatkan kemandirian seseorang. Jangan lupakan juga penggemblengan mental yang kental dalam aktivitas kepencintaalaman, khususnya kegiatan-kegiatan yang bersifat petualangan.

Salah satu kegiatan kepencintaalaman yang paling sering aku jalankan adalah pendakian gunung. Banyak orang mungkin yang melihat pendakian gunung sekedar kegiatan petualangan belaka. Padahal pendakian gunung menyangkut banyak aktivitas yang membangun kemampuan manajerial, kepemimpinan dan team working. Pendakian yang ideal menuntut penetapan target dan rute serta jangka waktu pelaksanaan, berikut perencanaan, penganggaran dan pengadaan. Selain itu aktivitas pendakian jelas menuntut persiapan yang matang, fisik, mental, pemahaman dan penguasaan peralatan perlengkapan, medan, serta kerjasama tim.

Bidang pekerjaan manakah yang tidak menuntut hal-hal tersebut?

Para pendaki gunung harus bisa memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana yang direncanakan sekaligus siap mengantisipasi hal-hal yang di luar perencanaan, salah satunya dengan mempersiapkan bekal logistik makanan untuk jumlah hari yang lebih banyak ketimbang jumlah hari kegiatan pendakian dan juga kemampuan untuk bertahan hidup tanpa ketersediaan makanan hasil olahan manusia.

Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rencana bisa berakibat pada resiko yang tidak bisa dipandang remeh. Pendakian yang berjalan lebih lama karena medan yang sulit dan atau cuaca yang samasekali tidak bersahabat, tidak saja menguji ketahanan mental dan fisik melainkan juga beresiko pada ketersediaan perbekalan. Ancaman terhadap keselamatan menjadi hal yang harus disadari penuh dan diantisipasi sebaik mungkin.

Keberhasilan bagi para pendaki gunung mencakup 2 hal: keberhasilan mencapai target (puncak gunung) dan keberhasilan untuk mencapai homebase (pulang) dengan selamat. Apa artinya keberhasilan mencapai puncak gunung jika kemudian pulang dalam kantung jenazah? Di sinilah kegiatan petualangan sungguh menguji ketahanan dan keselarasan antara fisik, mental, spiritual dan pikiran.

Hal yang lebih menantang adalah jika kegiatan itu dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa anggota. Sebuah tim harus solid terlebih dahulu sebelum dapat bekerja sama dengan baik. Soliditas dibangun dengan menguatkan kesadaran bahwa satu sama lain sangat saling membutuhkan untuk mencapai sebuah tujuan yang sama; bahwa kekuatan dan kelebihan seorang anggota tim adalah untuk menutupi kekurangan anggota yang lain; bahwa ancaman keselamatan terhadap seorang anggota akan mengancam keselamatan tim secara keseluruhan; bahwa kegagalan seorang anggota adalah juga kegagalan tim.

Pada akhirnya pengalaman dalam pendakian-pendakian gunung yang diikuti oleh pemahaman dan penguasaan akan setiap aspeknya menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagiku dalam memasuki dunia kerja. Target dalam dunia kerja adalah bagaimana kita mencapai puncak gunung dan kembali dari pendakian dengan selamat. Kamu harus tahu apa targetnya, bagaimana mencapainya dan kapan serta dengan melibatkan siapa saja yang harus melakukan apa-apa saja, termasuk ketika dalam situasi yang terburuk sekalipun.

Oiya, bicara soal suami ideal adalah pendaki gunung, jika seorang pendaki gunung mampu menghadapi dan melewati hujan badai yang menerbangkan kerikil-kerikil yang tajam dan menyakitkan serta medan yang curam serta tebing tinggi, tentunya relatif lebih mudah baginya untuk menghadapi dan melewati badai rumah tangga. Jadi, carilah suami atau istri yang adalah pendaki gunung.

One thought on “Suami Ideal adalah Pendaki Gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s