Mengejar Ocir dan Menaklukkan Bu Titik

Dari tulisanku sebelumnya “Suami Ideal adalah Pendaki Gunung”, aku sudah sampaikan jika aku meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dalam waktu yang relatif lama karena aktivitasku di luar bangku kuliah, khususnya dalam kegiatan pencinta alam dan lingkungan hidup. Satu hal yang masih aku ingat dengan baik adalah, aku sangat mungkin lulus lebih lama lagi.

Adalah seorang seniorku di Ilmu Hubungan Internasional dan juga organisasi pencinta alam yang aku ikuti, Muhammad Rico Ferajab, atau yang akrab kami panggil “Ocir”. Beliau adalah orang yang sangat berperan di balik kelulusanku. Bukan dengan dukungan semangat, dana, masukan dan sejenisnya, melainkan dengan cara dia lulus lebih awal dariku.

Begini ceritanya.

Sekitar akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000, Ocir mendadak memberitahuku jika dia hendak mengikuti ujian skripsi yang menjadi ujian akhir kuliahnya. Aku sangat terkejut mendengar pemberitahuan itu. Betapa tidak? Selama kuliah dan berkegiatan dalam organisasi pencinta alam, aku seringkali berkegiatan bersamanya dan aku tidak pernah mendengar kabar dia tengah mengerjakan skripsi. Meskipun aku tahu dia sangat cerdas (dia mengambil kuliah di 2 jurusan: Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Pariwisata), aku tidak mengira dan lumayan sulit menerima dia akan lulus lebih dulu. Ada perasaan kehilangan yang sangat kuat yang mendorong aku untuk harus segera menyusulnya.

Demikianlah kemudian aku mulai sibuk memilih topik skripsi dan konsultasi dengan dosen pembimbingku. Awalnya aku memilih judul skripsi dengan topik yang berkaitan dengan Indonesia sebagai negara maritim. Atas topik tersebut, jurusan ilmu HI menetapkan Ibu Siti Mutiah, akrab dipanggil Ibu Titik, seorang pakar Timur Tengah, sebagai dosen pembimbingku. Sebuah ketetapan yang semula sulit aku terima mengingat beliau dikenal sebagai dosen “killer’. Aku lumayan sering mendengar ada mahasiswa bimbingan beliau yang harus bolak-balik membenahi skripsinya sehingga tidak juga lulus. Aku juga sering mendengar betapa beliau dinilai “sangat pelit” dalam memberi nilai.

Apa boleh buat. Ketetapan sudah dibuat dan aku harus menjalaninya.
Jika hujan badai bisa aku lalui, masa sih aku tidak bisa mengatasi seorang ibu Titik?? Hehehe.

Perkembangan selanjutnya di luar dugaanku. Ibu Titik memang orang yang cenderung lugas dan tegas. Beliau relatif sangat perhatian pada hal-hal detil. Namun di sisi lain, aku menilai beliau sangat disiplin dan jauh lebih mudah ditemui untuk konsultasi. Hal itu sangat membantuku yang ingin segera menuntaskan skripsiku.

Ketika kemudian aku mendapati sulitnya mencari bahan skripsiku yang berkaitan dengan konsep negara maritim, aku akhirnya memutuskan untuk ganti judul. Kali ini, aku sengaja mencari judul, yang hampir pasti dosen pembimbingnya adalah Ibu Titik. Beliu sempat terlihat tidak senang ketika aku menyampaikan rencana perubahan topik skripsiku, bahkan separuh menuduh, beliau bertanya: “Kamu tidak suka ya saya bimbing?”.  Aku lumayan kaget dengan reaksi beliau dan langsung buru-buru menjelaskan jika aku memutuskan untuk merubah judul karena kesulitan mencari bahan, yang jelas merupakan kesalahanku, karena aku tidak mencoba mencari tahu sebelum menentukan judul.

Aku juga sampaikan bahwa secara khusus aku berharap beliau masih berkenan untuk menjadi dosen pembimbingku untuk judul skripsiku yang baru: “Masalah Integrasi Nasional: Studi Kasus Suku Kurdi di Irak”. Puji Tuhan, raut wajah beliau langsung berubah drastis dari kaku menjadi berseri-seri dan langsung menyanggupi harapanku. Segala sesuatunya menjadi relatif lancar sejak saat itu.

Bu Titik tetap menjadi sosok yang teliti dan “rewel”, tapi cara berkomunikasi beliau denganku sering diwarnai senyum dan keceriaan beliau yang jarang aku lihat sebelumnya. Sisi lain, aku berusaha “memelihara” mood beliau dengan cara secepat mungkin melakukan koreksi atas naskah skripsiku sesuai permintaan beliau. Itu tampaknya satu hal yang cukup beliau apresiasi. Aku selalu memastikan bahwa maksimal dalam waktu 2 hari setelah mendapat koreksi, tergantung sedikit banyaknya koreksi,  aku sudah menghubungi beliau lagi untuk minta waktu konsultasi.

“Kok cepat sekali?”, demikian pernah Bu Titik bertanya. Aku memang hanya ingin lulus secepatnya.

Akhirnya, dalam waktu sekitar 2 – 3 bulan sejak pertama aku mengajukan judul skripsi yang baru, aku berhasil menyelesaikan seluruh naskah skripsi dan siap menghadapi ujian skripsi. Hasil akhirnya adalah, berbeda dengan kabar yang sering aku terima soal pelit dalam memberi nilai, Bu Titik memberikan aku nilai “A” untuk skripsiku. Salah satu hari yang terindah dalam hidupku adalah satu hari dalam bulan Oktober tahun 2000, ketika Bu Titik memberikan aku ucapan selamat karena telah berhasil lulus ujian skripsi.

Mataku berkaca-kaca dan ingin rasanya aku memeluk dan mencium beliau. Aku berhasil menyusul kelulusan Ocir dengan relatif cepat, bahkan lebih cepat dari bayanganku semula. Kombinasi antara kecepatanku menyusun dan memperbaiki naskah serta kemudahan Bu Titik untuk meluangkan waktu memberikan bimbingan dan konsultasi.

Ceritanya pasti akan berbeda jika aku memilih menolak beliau sebagai dosen pembimbing skripsiku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s