Tidak Ada Istilah “Tersesat”

Ketika aktif di kegiatan pencinta alam semasa kuliah S1, ada seorang senior yang menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK) dalam praktik navigasi darat. Menurut Towetz, demikian beliau akrab kita panggil, jika kita memahami dan menguasai IMPK, maka tidak akan ada istilah “tersesat” bagi kita, melainkan sekedar “mengambil jalur yang lebih memutar”. Dengan penguasaan tersebut, kita menjadi tahu persis posisi kita berada saat ini, titik awal dan titik akhir, serta rute yang telah dan akan kita tempuh mulai dari titik awal hingga titik akhir berikut kondisi medan yang akan kita jumpai; landai, tanjakan, tebing, lembah, punggung, puncak bukit atau gunung.

Berbekal pengetahuan itu, aku dan teman-teman organisasi pencinta alam seringkali melakukan pendakian gunung melalui rute yang kita tetapkan sendiri, atau istilah kami “buka jalur”. Sebelum kegiatan berlangsung, kami mempelajari peta topografi gunung yang hendak kami daki. Selanjutnya kami menentukan rute yang hendak kami telusuri untuk mencapai puncak gunung sasaran kegiatan. Ini adalah satu kegiatan yang paling aku sukai. Selain karena meningkatkan ketrampilan IMPK dan survival, kegiatan ini sungguh kental unsur petualangannya. Aku berasa sangat “macho” dan “militan” dalam kegiatan ini.

Jauh berbeda jika kami menempuh jalur yang sudah ada, yang sudah biasa dilalui. Saat melakukan kegiatan “buka jalur”, kami benar-benar bersiap untuk menembus “hutan perawan”. Selain peralatan dan perlengkapan yang lebih banyak, kami tentu harus lebih menguatkan mental. Namun, sudah pasti, jika kami sudah menguasai IMPK, kami boleh berharap kami tidak akan tersesat dalam pelaksanaan “buka jalur” tersebut. Kita tahu pasti posisi kita saat ini, rute yang sudah kami tempuh dari titik keberangkatan, dan rute yang akan kami tempuh dari posisi saat ini menuju titik akhir berikut kondisi medan yang akan kami jumpai.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan bisnis.

Banyak perusahaan yang belum menetapkan tujuan (visi) dan bagaimana tujuan itu hendak dicapai (misi). Atau mereka mungkin sudah menetapkan visi dan misi tersebut, namun kemudian hanya sebatas tercantum dalam akta perusahaan atau pada hiasan dinding di lobi kantor-kantor mereka. Artinya, apa-apa yang hendak dicapai dan bagaimana mencapainya hanya akan merupakan pernyataan dan entah kapan akan menjadi kenyataan.

Itu tidak ubahnya dengan para pendaki yang tersesat. Mereka tidak tahu persis posisi mereka berada terhadap titik awal keberangkatan atau titik akhir. Otomatis, mereka yang tersesat, tidak akan tahu persis kemana mereka harus bergerak. Mereka hanya bisa menduga-duga dan berharap akan menemukan jalur yang membawa mereka kembali pada peradaban.

Jika seorang pendaki tersesat bisa beresiko kehilangan nyawa, demikianlah sebuah perusahaan yang “tersesat”-pun bisa gulung tikar, bangkrut, tamat. Setidaknya, perusahaan itu cenderung membuang-buang waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada pemborosan waktu dan sumber daya dalam ketersesatan.

Dimana posisi kamu saat ini? Are you lost or are you on track?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s