4 x 6 = Tergantung..

Beberapa hari terakhir ini lumayan santer diperbincangkan di media sosial soal pelajaran Matematika Kelas 2 SD. Sekilas yang aku tangkap adalah kakak si Siswa menekankan pada hasil: “Paling penting hasilnya sama saja toh?”, sementara Sang Guru menekankan pada proses: “Kalau prosesnya salah, berapapun hasilnya adalah salah.”

Aku jadi teringat seorang pemimpin perusahaan yang punya pandangan: “Gue engga mau tau apa yang sudah kalian lakukan, yang penting hasilnya gimana?”. Fine – fine saja jika beliau berpandangan seperti itu. Namanya juga pemimpin, beliau berhak menentukan bagaimana jalannya perusahaan, meski itu berarti jalan di tempat atau berputar – putar tak tentu arah tujuannya.

Dalam pengelolaan bisnis, proses menjadi hal yang penting meski hasil selalu menjadi tolak ukur yang utama. Kita harus tahu persis apa – apa saja yang sudah dilakukan ketika kita mendapatkan sebuah hasil. Tidak saja ketika kita mengalami kerugian atau penurunan keuntungan, bahkan juga ketika kita meraih keuntungan atau peningkatan keuntungan.

Jika kita tidak tahu kenapa kita meraih keberhasilan, bagaimana kita bisa mengulangi keberhasilan itu? Demikian pula sebaliknya. Jika kita gagal dan tidak tahu kenapa, maka besar kemungkinan pula kita akan selalu mengulangi kegagalan itu.

Dengan demikian pemahaman dan penerapan sebuah proses bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi untuk mendapatkan nilai tertentu yang kita harapkan sekaligus meminimalisir pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan dana. Potensi pemborosan itu akan terjadi jika kita tidak mengetahui dengan pasti apakah hal – hal yang kita lakukan akan membantu kita mencapai tujuan atau target.

Selain itu, penerapan sebuah proses atau mekanisme tertentu juga dapat menjaga kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Keberlangsungsan sebuah perusahaan tidak lagi bergantung pada keberadaan seseorang atau beberapa orang di dalamnya. Jika sebuah perusahaan maju dan berkembang di bawah kepemimpinan si A, maka ketika A digantikan oleh si B, perusahaan akan tetap dan bahkan semakin maju dan berkembang.

Oleh karena siapapun yang meneruskan kepemimpinan atas sebuah perusahaan tinggal meneruskan dan memperbaiki proses yang sudah berjalan. Tentu saja dengan catatan tidak ada faktor eksternal yang menuntut perubahan proses secara fundamental agar si perusahaan dapat terus maju dan berkembang.

Namun, hal yang harus diingat adalah sebuah proses haruslah dinamis, dalam artian, kembali demi efektivitas dan efisiensi, sebuah proses akan relatif cepat menjadi basi untuk kemudian harus diubah. Proses surat menyurat dengan kertas, sebagai satu contoh yang sederhana, menjadi sebuah pemborosan dengan adanya surat elektronik.

Selain itu, sebuah proses menjadi hal yang sangat penting ketika apa – apa yang harus dilakukan sungguh berorientasi pada pencapaian target. Untuk mengetahui sesuatu hal itu penting dilakukan hanya membutuhkan satu tolak ukur, jika ia tidak dilakukan maka pencapaian tujuan akan terhambat atau bahkan gagal. Sebaliknya, sebuah hal menjadi tidak penting ketika keberadaannya tidak berpengaruh pada pencapaian tujuan. Singkatnya, jika dilakukan atau tidak tidak lakukan hasilnya sama saja.

Lalu, sebaiknya tetap dilakukan atau tidak? Jika kita berorientasi pada efektivitas dan efisiensi, tentunya kita hanya akan melakukan hal-hal yang mendorong dan memastikan pencapaian tujuan.

Lalu yang benar 4 x 6 atau 6 x 4? Tergantung apakah kita peduli pada proses atau yang penting hasilnya sama saja maka apapun prosesnya tidak jadi masalah. Jujur sajalah, banyak yang tidak tahu jika 4 x 6 tidak sama dengan 6 x 4 bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s