Meninggalkan Payung, Merutuki Hujan

Dulu jaman masih suka naik gunung, sering banget “gagal muncak” alias tidak berhasil mencapai puncak gunung. Biasanya penyebabnya adalah: Respon terhadap cuaca buruk.

Aku bilang “respon” karena cuaca buruk bukanlah penyebab “gagal muncak”, melainkan keputusan yang diambil untuk tidak melanjutkan pendakian.

Keputusan itu diambil sebagai respon atas cuaca buruk, entah karena kekuatiran akan keselamatan atau semata-mata karena demotivasi; badan dah capek, eh.. hujan badai pula!

Belum lagi jika di gunung, cuaca bisa berubah drastis hampir sekejap dari panas terik menjadi hujan badai. Itu juga merupakan “Sudden Shift” seperti yang disebutkan Profesor Rhenald Kasali dalam artikelnya yang berjudul: Hati-hati “Sudden Shift”, Fenomena Perubahan Abad ke-21″

Oleh karena terbiasa dengan “Sudden Shift”, aku selalu membawa mantel hujan setiap kali naik gunung meski di musim kemarau yang paling kering sekalipun. Tapi kalau sudah “turun gunung” di kehidupan sehar-hari, mantel seringkali hanya dibawa saat musim penghujan.

Di sinilah masalah timbul. “Kebiasaan” seringkali menjadikan kita lalai dan lengah serta lupa bahwa cuaca adalah faktor eksternal. Sebagaimana faktor eksternal yang datang dari luar diri kita, mereka tidak pernah sungguh-sungguh bisa kita kendalikan.

Kita hanya bisa berharap “Musim kemarau nih, cuaca juga panas terik, kayaknya engga bakal turun hujan”. Faktanya hujan pun turun di musim kemarau yang paling kering sekalipun. Kita saja yang tidak terbiasa. Akhirnya yang sering terjadi sebagai respon kita adalah “Kok hujan sih? Mana engga bawa mantel pula!” Memangnya kita ini majikannya cuaca dimana cuaca harus terus mengikuti kehendak kita?

Faktor eksternal hanya bisa diharapkan, namun tidak pernah dipastikan. Ketidakpastian sesungguhnyalah satu hal yang bisa dipastikan dari faktor eksternal. Sama dengan kondisi saat ini. Semua orang tentunya tidak pernah berharap situasi yang tidak menguntungkan seperti saat ini terjadi. Tapi, mestinya dari dulu orang juga menyadari, situasi seperti ini bisa saja terjadi, dan memang akhirnya terjadi.

Lalu apa respon kita?

Kebanyakan dari kita akan merutuki hujan ketimbang menyadari kelalaian kita membawa mantel hujan. Sama dengan saat ini, sangat mudah menjumpai orang yang mengeluhkan pemerintah sebagai penyebab situasi yang terjadi saat ini.

Sebagian orang mempertanyakan, “Manaa?? Dulu katanya Jokowi kalau jadi Presiden, Rupiah bakal menguat??”

Itukan harapan kita saja, bukan sebuah kepastian. Jokowi, dan sikap serta kebijakan pemerintah selalu akan menjadi faktor eksternal yang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Pada akhirnya, keberhasilan kita untuk melewati dan mengatasi situasi tertentu, akan sangat bergantung pada respon kita. Bukan pada faktor eksternal.

Kita selalu bisa memutuskan untuk mengeluarkan mantel yang selalu kita bawa untuk menerjang hujan badai, atau sebaliknya, basah kuyup pulang balik ke rumah sembari merutuki hujan ketimbang kelalaian tidak membawa payung atau mantel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s