IGNORAN

Dulu pernah mau nyobain masuk D3 Pariwisata waktu pertama kali dibuka di UGM tahun 1994. Seleksi wawancara adalah salah satu seleksi yang mesti diikutin. Saat awal wawancara, salah satu pewawancara meminta aku untuk berjalan hilir mudik.

Semula aku pikir dia mau melihat posturku secara keseluruhan, yang waktu itu masih gagah menggiurkan, dan atau cara berjalanku. So, aku pun berjalan hilir mudik dengan langkah gagah penuh percaya diri, bak model di atas panggung catwalk.

Ketika aku kembali ke meja wawancara, aku kembali dengan rasa puas dan keyakinan bahwa penampilanku tadi tidaklah mengecewakan. Baru kemudian, ketika wawancara selesai dan aku berjalan ke pintu keluar, aku baru tau ada hal yang terlewatkan.

Aku baru menyadari ada segagang sapu yang tergeletak dan sebuah tempat sampah yang terguling di sudut ruangan, persis di salah satu titik ujung hilir mudikku tadi. Sudah pasti aku melihatnya saat hilir mudik tadi, tapi aku tidak menyadari dan mengabaikannya.

Sebelum aku melangkah keluar dari pintu itu, aku sudah menduga bahwa ketidaksadaranku atau ketidakpedulianku itu akan berujung pada kegagalanku. Setidaknya itu akan jadi salah satu penyebab aku tidak lolos wawancara itu.

Terbukti memang. Dari dua seleksi yang aku ikuti tahun itu, UMPTN dan D3 Pariwisata, aku hanya diterima di HI UGM.

Belasan tahun kemudian,  aku kenal seorang klien yang suka melontarkan umpatan: “ignorant”. Umpatan itu, pertama kali aku dengar, dilontarkan si klien ke anak buahnya yang meninggalkan meja tamu di kantornya, dengan asbak yang penuh dengan puntung rokok dan abu yang bertebaran.

“Kalian itu orang berpendidikan, tapi tidak peduli dengan kebersihan dan kerapihan! Ignorant!”, sergahnya.

Sejak itu dan hingga kini, aku menyadari banyak orang ignoran di sekelilingku, setiap hari. Bahkan termasuk aku sendiri. Orang-orang yang mengabaikan sesuatu tidak pada tempatnya; orang yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan beresiko bahaya; orang-orang yang mengabaikan dampak bahaya dari suatu hal atau tindakan.

Dan juga orang-orang yang ‘business as usual’ meski situasi dan kondisi di sekelilingnya memerlukan perhatian dan tindakan khusus.

Dan sikap ignoran itu sungguh tidak terkait dengan latar belakang pendidikan. Kita sangat mungkin berpendidikan tinggi, tapi tetap bersikap ignoran.

Sempat juga melakukan audit bisnis sebuah perusahaan. Para pimpinan menerima masukan akan langkah-langkah khusus yang harus dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi hanya sekedar menerima, tapi tetap menjalankan bisnis as usual, sebelum akhirnya kenyataan pahit benar-benar menimpa.

Apa penyebabnya? Kita cenderung mengabaikan atau tidak peduli akan sesuatu yang sesuai dengan minat dan arah perhatian kita. Atau, sesuatu yang tidak berdampak langsung kepada kita. Bisa juga karena tidak mau ‘repot-repot’ memikirkan atau melakukan hal lain karena kita sedang fokus pada hal-hal lainnya lagi.

Lucunya, ketidakpedulian itu sering juga dibungkus dengan “ya, kita berpikir positif sajalah”. Sebuah alasan untuk kemudian tidak perlu memikirkan dan atau mengambil sikap atau langkah tertentu.

Makin kemari, kecenderungan sikap ignoran semakin bikin penasaran. Apa sih sesungguhnya yang menjadi penyebabnya? Waktu aku iseng-iseng mencari tahu tentang mentalitas ignoran, aku juga baru tahu jika Google Translate menerjemahkan ignorant sebagai bodoh.

Screen Shot 2017-06-24 at 10.57.43 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s