Pro Life

Setelah melakukan audit bisnis sebuah jaringan toko-toko buku nasional sekitar 10 tahun yang lalu, saya jadi punya persepsi dan keyakinan tertentu menyangkut bagaimana alam bekerja. Persepsi itu juga mengingatkan jika manusia harus lebih berorientasi kepada keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan sebagai bentuk tanggung jawab atas penciptaan manusia.

Jejaring toko buku sangat akrab dengan yang namanya Prinsip Pareto atau yang juga dikenal dengan prinsip 80-20(%). Oleh karena keterbatasan space atau ruang penjualan, toko buku dituntut untuk fokus pada sekitar 20-25% judul buku yang memberikan kontribusi penjualan terbesar.

Faktual, Prinsip Pareto ini jadi semacam hukum alam di seluruh toko buku yang saya audit, toko-toko buku di 5 kota: Jakarta, Depok, Jogja, Surabaya dan Malang. Bahwa sekitar 75-80% penjualan buku dikontribusikan hanya oleh sebagian kecil judul buku yang dipajang; sekitar 20-25% judul buku. Setiap toko buku menunjukkan kecenderungan yang sama.

Bagaimana kemudian toko-toko buku itu sebaiknya fokus pada penerapan Prinsip Pareto? Salah satunya adalah menempatkan judul-judul buku itu pada posisi dan di rak-rak buku yang ‘mudah dilihat’ oleh pembeli, pada rak-rak buku di jalur utama yang sering dilintasi oleh pembeli.

Selain itu, ketika judul-judul buku baru masuk sementara space penjualan, maka buku-buku yang memberikan kontribusi terendah harus siap disingkirkan. Secara umum, buku-buku yang kontennya dinilai kurang berkualitas dan kurang menarik serta pergerakannya lamban (kurang atau tidak laku), akan menjadi buku-buku pertama yang disingkirkan dari rak-rak pemajangan.

Dengan demikian, fokus pada buku-buku yang paling memberikan kontribusi pada penjualan, adalah salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan ‘hidup’ toko-toko buku. Sekali lagi, menjaga keberlangsungan ‘hidup’.

Lebih lanjut, banyak di antara kita yang mestinya sudah mengetahui bagaimana Prinsip Pareto ini berjalan di kehidupan kita masing-masing, di sekitar kita. Bagi saya pribadi, Prinsip Pareto ini juga menghadirkan pemikiran tentang bagaimana manusia sebaiknya menjalankan kehidupannya.

Jika dikaitkan dengan tujuan hidup manusia, secara pribadi, kita masing-masing pasti punya tujuan yang berbeda. Namun, mungkin tidak ada yang pernah tahu apa tujuan sesungguhnya manusia diciptakan.

Satu hal yang pasti menurut saya, jika kita yakin bahwa kehadiran manusia di atas bumi adalah baik adanya, maka hal yang harus dilakukan adalah menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Tidakkah itu adalah bentuk rasa syukur kita atas penciptaan manusia?

Sementara yang terjadi saat ini, manusia terus bertambah tapi tidak diikuti dengan kesadaran yang cukup kuat untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Sebaliknya, manusia malah mengancam keberlangsungan hidupnya. Bukan kehidupan manusia belaka, tapi juga keberlangsungan hidup semua makhluk hidup. Manusia menjadi ancaman bagi semesta alam. Manusia menjadi virus bagi bumi.

Demikianlah ujaran yang disampaikan oleh Samuel L. Jackson selaku pemeran antagonis dalam film “Kingsman: The Secret Service” (2014) menjadi sangat relevan:

When you get a virus, you get a fever. That’s the human body raising its core temperature to kill the virus. Planet Earth works the same way: Global warming is the fever, mankind is the virus. We’re making our planet sick. A cull is our only hope. If we don’t reduce our population ourselves, there’s only one of two ways this can go: The host kills the virus, or the virus kills the host. Either way… (The result is just the same, the virus dies)“.

So, ketimbang menjadi virus yang harus dipunahkan untuk menjaga keberlangsungan hidup di atas muka bumi, manusia perlu lebih berorientasi pada keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Menjaga keberlangsungan hidup manusia melalui tindakan yang mengedepankan kesehatan dan keselamatan tidak saja diri sendiri, melainkan juga lingkungan hidup adalah hal yang bisa kita lakukan.

Demikianlah kita menjadi buku-buku yang lebih memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan toko buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s