Being The Best of What? What for?

Dulu sempat dipindahtugaskan ke satu perusahaan yang selalu merugi selama 10 tahun berturut-turut. Statusnya sebagai satu anak perusahaan sebuah korporasi yang besarlah yang menjadikannya ia tetap bertahan dengan subsidi.

Ada satu karyawan penjualan yang merupakan top scorer. Penjualannya paling tinggi dibandingkan rekan satu timnya. Pencapaiannya itu jelas patut diapresiasi, namun sisi lain, sikap bangga dan berpuas dirinya mengingatkan saya akan kecenderungan perilaku banyak orang Indonesia yang saya jumpai.

Sejak jadi kuli tahun 2000 lalu, saya merasa banyak orang Indonesia yang menunjukkan kecenderungan gampang mengeluh di satu sisi, tapi juga cepat puas di sisi lain. Karyawan penjualan yang saya sebutkan di awal juga menunjukkan hal yang sama.

Jika dibandingkan dengan target individu yang harus dia capai, pencapaiannya masih jauh lebih rendah. Namun, hanya karena pencapaiannya paling tinggi, dia sudah berpuas diri dan akhirnya gampang ditebak, perkembangannya berhenti.

Tingkat kepuasannya sebatas pada “terbaik di antara yang buruk”. So tidak heran jika target penjualan tidak pernah tercapai, sementara pengeluaran selalu lebih besar dan akhirnya perusahaan selalu merugi.

Business is about being the best that you can be

Saya merasa banyak di antara kita yang menetapkan tolak ukur pencapaian berdasarkan apa yang kita lihat dan pahami di luar diri kita. Sebaliknya, sangat sedikit yang menetapkannya berdasarkan apa yang kita sadari sebagai kemampuan diri.

Gambaran sederhananya, jika perusahaan menetapkan target 10, sementara kalau kita menyadari kemampuan diri, sebenarnya kita sangat mampu mencapai angka 20, dengan sumber daya dan dukungan yang sama.

Mana target yang hendak kita sasar? Target dari perusahaan atau target dari sendiri yang lebih tinggi ketimbang target yang ditetapkan atasan?

Saya percaya mereka yang menyadari penuh kapasitas diri, tidak akan berpuas dengan target yang lebih rendah ketimbang apa yang sesungguhnya bisa mereka capai. Menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain oleh karenanya menjadi hal yang relatif tidak penting.

Jauh lebih penting adalah menyadari sepenuhnya kapasitas dan kapabilitas diri, dan meningkatkannya dari waktu ke waktu. Orang-orang seperti itu, tanpa perlu pengakuan, hampir pasti menjadi orang yang terbaik di lingkungannya.

Khususnya jika lingkungannya di Indonesia. Lingkungan dimana banyak orang yang gampang mengeluh, sekaligus cepat berpuas diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s