Manusia Normal yang Berkebutuhan Khusus

Saya punya anak sulung yang berkebutuhan khusus. Orang bilang butuh kesabaran lebih untuk membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Tidak demikian bagi saya, dan sebaliknya, aneh jika orang harus punya kesabaran lebih menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus.

Kesadaran jika si buah hati ataupun seseorang berkebutuhan khusus menghadirkan pemakluman. Pemakluman menghadirkan penerimaan, dan penerimaan menghadirkan kesabaran. Sesederhana itu.

Jadi, jika orang merasa harus lebih bersabar menghadapi anak-anak yang berkebutuhan khusus, rasanya semata-mata karena yang bersangkutan belum cukup menyadari.

Manusia-manusia yang disebut normal, apalagi berpendidikan tinggi, seringkali justru menuntut kesabaran lebih. Tak jarang mereka diharapkan dan atau diduga akan berpikir, bersikap, berucap dan bertindak sesuai dengan pendidikannya. 

Seringkali harapan atau dugaan itu tidak terwujud, dan di situlah saya merasa kita harus lebih bersabar justru kepada orang-orang yang katanya normal.

Dulu tak jarang saya melontarkan kata-kata: “Masa kayak gini saja harus dikasih tau? Atau, “Apa harus diingetin terus?” Dan kata-kata lainnya yang menunjukkan ketidaksabaran. Bahkan pernah sekali, terucap: “Kamu itu sudah goblok tapi sok tau dan ngeyelan!”. 

Saya sempat stress ketika disuruh mengelola SDM. Tensi darah yang biasanya rendah, jadi cenderung tinggi dan dulu sempat menyentuh angka 140 lebih di usia yang masih 30an. Bobot anjlok dari 95an kg jadi 75an. Orang bilang saya lebih terlihat ganteng, tapi yang bener sajalah. Masa ganteng karena penderitaan?

Itu sepenuhnya karena saya tidak sadar, tidak tahu, jika manusia-manusia normal pun berkebutuhan khusus. Saya menjadi merasa sangat asing dengan yang namanya manusia, dan saya tidak tahu bagaimana saya mesti menghadapinya. Padahal salah satu tugas dan tanggung jawab utama saya adalah mengelola dan mengembangkan SDM di tempat saya berkarya, sekaligus menjadi tanggung jawab terberat.

Ketidaktahuan saya mendorong untuk membaca lebih banyak buku, dan mengikuti kursus pelatihan serta diskusi tentang SDM. Ada 5 alat sederhana yang kemudian hingga kini masih saya gunakan untuk membantu saya dalam memahami orang lain, yaitu: DISC, Grafologi, Empati, Pikiran yang bersih dan tidak berprasangka serta.., Indera ke-6. 😀 

Pada perkembangannya, saya memiliki pandangan, jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari seseorang, kita harus terlebih dulu memahaminya. Mendorong orang lain untuk melakukan yang terbaik seringkali harus diawali dengan interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif.

IMHO, interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif itu sendiri harus diawali dengan pemahaman akan dan penyesuaian terhadap karakter orang itu. Saya menghindari memberikan kritikan pedas kepada orang dengan karakter “entertainer”di depan orang banyak, karena itu bisa sangat men-‘demotivasi’. 

Sebaliknya jika hal yang sama saya lakukan kepada orang dengan karakter “fighter”, sangat mungkin itu justru memberikan motivasi yang besar kepada yang bersangkutan. Itu gambaran sederhananya.

Pada akhirnya, kita semua adalah pribadi yang unik dan oleh karenanya berkebutuhan khusus. Dengan demikian, hanya ada 2 jenis manusia: Manusia yang berkebutuhan khusus dan manusia yang belum menyadari jika mereka berkebutuhan khusus.

People with Dissabilities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s