Untung Rupiah Turun

Sampai 2015 lalu, saya biasa mengisi waktu luang dengan jual beli jam penyelam, peralatan survival dan bela diri buatan luar. Kalau sudah di luar jam kerja, sebagian besar waktu saya digunakan untuk melototin situs-situs e-comm.

Lumayan banget hasilnya. Saya bisa untung lebih dari 100%. Hobi koleksi yang biasanya cuman ngabisin duit dan dirutuki bini: “beli lagi, beli lagi!”, berubah menjadi berkah dan bikin bini berdesah. Itu sampai 2015.

Setelah Rupiah anjlok, aktivitas saya itu turun drastis, nyaris sepi. Peminat barang saya masih tinggi, tapi tidak diikuti oleh transaksi. Calon pembeli paling sering komentar: “Wah, menarik bingitz, cuma sayang engga ada duit”. Gantian bini yang sering nanya: “Engga nyetok lagi?”.

Sebenarnya, berapa sih nilai Rupiah yang ideal? Apakah makin rendah nilai Rupiah, akan semakin merugikan? Atau sebaliknya?

Kalau makin rendah, makin merugikan, kenapa China punya hobi mempertahankan nilai Yuan lebih rendah ketimbang US Dollar ya? Tahun 2015 lalu, ketika USD sedang jaya-jayanya, China melawan arus dengan melakukan devaluasi. Yuan semakin rendah terhadap USD.

Apakah itu terus memperlemah China? No.. China masih bertahan sebagai negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia, setelah Amerika.

IMHO, kebijakan devaluasi Yuan adalah promosi penjualan yang secara efektif menjaga dan mendorong surplus perdagangan China. Pun ekspor China sempat turun, tapi kebijakan itu berhasil membalikkan situasi. Ekspor China kembali tumbuh dan menjadi penyokong terbesar pertumbuhan ekonomi China.

Saya tidak tahu persis dan hanya menduga-duga, bisa jadi Pemerintah Indonesia belajar dari China. Dugaan itu berangkat dari pengamatan sekilas bahwa ada satu kebijakan pemerintah yang berbeda dengan pemerintahan terdahulu.

Pemerintahan terdahulu sepertinya biasa membakar devisa untuk mempertahankan nilai Rupiah terhadap Dollar. Namun sejak turunnya Rupiah tahun 2015an, saya sepertinya malah sangat jarang mendengar adanya intervensi pemerintah untuk menahan turunnya nilai Rupiah.

Turunnya nilai Rupiah mestinya mendorong ekspor dan surplus perdagangan, serta mendorong masuknya turis asing. Dalam hal itulah, nilai Rupiah yang menurun terhadap USD menjadi berkah.

Sayangnya, ekspor Indonesia justru menurun sejak 2012, dan baru sedikit naik pada 2017, namun masih jauh dari rekor tertinggi pada tahun 2011. Entah tahun 2018 ini.

Sialnya lagi adalah, masyarakat Indonesia masih cenderung konsumtif. Peralatan dan bahan produksi hingga barang jadi kita masih banyak bergantung pada produk impor. Itu mungkin yang membedakan kita dengan China.

Kontribusi industri bernilai tambah China terhadap GDP-nya masih lebih dari 35%, mendekati atau lebih dari 40% malah. Sementara Indonesia cenderung turun atau stagnan, berkisar di 20%. Berangkat dari hal itu, saya berasumsi bahwa kita punya ketergantungan yang tinggi terhadap produk impor.

Tak heran, lebih banyak orang yang kuatir dengan penurunan nilai Rupiah ini ketimbang yang kegirangan. Itu berarti biaya meningkat, pendapatan menurun.

Lalu apakah kita mesti fokus mendorong pertumbuhan industri bernilai tambah? Ya, mestinya kita juga fokus pada industri jasa dan pariwisata yang memang juga sangat jelas merupakan kekuatan Indonesia.

Kalau kita tidak kuat di industri bernilai tambah, mestinya kita tetap bisa perkasa di industri jasa dan pariwisata. Apalagi jika pengembangan industri bernilai tambah akan lebih besar biaya dan lebih panjang perjalanannya.

Dan upaya pemerintah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai penopang ekonomi nasional ini mulai terlihat hasilnya. Pertumbuhan pariwisata pada tahun 2017 disebutkan mencapai sekitar 25% dibanding 2016. Jauh lebih tinggi ketimbang negara-negara ASEAN yang hanya berkisar 7%.

Itu kenapa saya sangat mendukung pembangunan infrastruktur karena jelas itu juga akan memperkuat industri pariwisata kita. Cuma yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum untuk menjamin rasa aman, untuk menciptakan persepsi positif publik dalam dan luar negeri terhadap tingkat keamanan di Indonesia.

Jadi kembali pada pertanyaan di awal. Berapakah nilai ideal Rupiah? Jangan-jangan akan lebih menguntungkan secara nasional jika nilai Rupiah lebih turun lagi.

Dengan catatan tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s