Untung Rupiah Turun

Sampai 2015 lalu, saya biasa mengisi waktu luang dengan jual beli jam penyelam, peralatan survival dan bela diri buatan luar. Kalau sudah di luar jam kerja, sebagian besar waktu saya digunakan untuk melototin situs-situs e-comm.

Lumayan banget hasilnya. Saya bisa untung lebih dari 100%. Hobi koleksi yang biasanya cuman ngabisin duit dan dirutuki bini: “beli lagi, beli lagi!”, berubah menjadi berkah dan bikin bini berdesah. Itu sampai 2015.

Setelah Rupiah anjlok, aktivitas saya itu turun drastis, nyaris sepi. Peminat barang saya masih tinggi, tapi tidak diikuti oleh transaksi. Calon pembeli paling sering komentar: “Wah, menarik bingitz, cuma sayang engga ada duit”. Gantian bini yang sering nanya: “Engga nyetok lagi?”.

Sebenarnya, berapa sih nilai Rupiah yang ideal? Apakah makin rendah nilai Rupiah, akan semakin merugikan? Atau sebaliknya?

Kalau makin rendah, makin merugikan, kenapa China punya hobi mempertahankan nilai Yuan lebih rendah ketimbang US Dollar ya? Tahun 2015 lalu, ketika USD sedang jaya-jayanya, China melawan arus dengan melakukan devaluasi. Yuan semakin rendah terhadap USD.

Apakah itu terus memperlemah China? No.. China masih bertahan sebagai negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia, setelah Amerika.

IMHO, kebijakan devaluasi Yuan adalah promosi penjualan yang secara efektif menjaga dan mendorong surplus perdagangan China. Pun ekspor China sempat turun, tapi kebijakan itu berhasil membalikkan situasi. Ekspor China kembali tumbuh dan menjadi penyokong terbesar pertumbuhan ekonomi China.

Saya tidak tahu persis dan hanya menduga-duga, bisa jadi Pemerintah Indonesia belajar dari China. Dugaan itu berangkat dari pengamatan sekilas bahwa ada satu kebijakan pemerintah yang berbeda dengan pemerintahan terdahulu.

Pemerintahan terdahulu sepertinya biasa membakar devisa untuk mempertahankan nilai Rupiah terhadap Dollar. Namun sejak turunnya Rupiah tahun 2015an, saya sepertinya malah sangat jarang mendengar adanya intervensi pemerintah untuk menahan turunnya nilai Rupiah.

Turunnya nilai Rupiah mestinya mendorong ekspor dan surplus perdagangan, serta mendorong masuknya turis asing. Dalam hal itulah, nilai Rupiah yang menurun terhadap USD menjadi berkah.

Sayangnya, ekspor Indonesia justru menurun sejak 2012, dan baru sedikit naik pada 2017, namun masih jauh dari rekor tertinggi pada tahun 2011. Entah tahun 2018 ini.

Sialnya lagi adalah, masyarakat Indonesia masih cenderung konsumtif. Peralatan dan bahan produksi hingga barang jadi kita masih banyak bergantung pada produk impor. Itu mungkin yang membedakan kita dengan China.

Kontribusi industri bernilai tambah China terhadap GDP-nya masih lebih dari 35%, mendekati atau lebih dari 40% malah. Sementara Indonesia cenderung turun atau stagnan, berkisar di 20%. Berangkat dari hal itu, saya berasumsi bahwa kita punya ketergantungan yang tinggi terhadap produk impor.

Tak heran, lebih banyak orang yang kuatir dengan penurunan nilai Rupiah ini ketimbang yang kegirangan. Itu berarti biaya meningkat, pendapatan menurun.

Lalu apakah kita mesti fokus mendorong pertumbuhan industri bernilai tambah? Ya, mestinya kita juga fokus pada industri jasa dan pariwisata yang memang juga sangat jelas merupakan kekuatan Indonesia.

Kalau kita tidak kuat di industri bernilai tambah, mestinya kita tetap bisa perkasa di industri jasa dan pariwisata. Apalagi jika pengembangan industri bernilai tambah akan lebih besar biaya dan lebih panjang perjalanannya.

Dan upaya pemerintah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai penopang ekonomi nasional ini mulai terlihat hasilnya. Pertumbuhan pariwisata pada tahun 2017 disebutkan mencapai sekitar 25% dibanding 2016. Jauh lebih tinggi ketimbang negara-negara ASEAN yang hanya berkisar 7%.

Itu kenapa saya sangat mendukung pembangunan infrastruktur karena jelas itu juga akan memperkuat industri pariwisata kita. Cuma yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum untuk menjamin rasa aman, untuk menciptakan persepsi positif publik dalam dan luar negeri terhadap tingkat keamanan di Indonesia.

Jadi kembali pada pertanyaan di awal. Berapakah nilai ideal Rupiah? Jangan-jangan akan lebih menguntungkan secara nasional jika nilai Rupiah lebih turun lagi.

Dengan catatan tentunya.

Pengangguran karena Penyimpangan

Barusan baca berita tentang ancaman pengangguran pada generasi milenial. Disebutkan jika salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara keahlian yang ditekuni mahasiswa saat kuliah dengan kebutuhan dunia kerja.

Sudah lebih dari 20 tahun sejak saya pertama kali mendengar soal kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Artinya, masalah yang dihadapi oleh generasi milenial saat ini, bukan lagi masalah baru. Sayangnya memang tidak ada perubahan yang mendasar, dari sisi model pendidikan dan atau kurikulum untuk mengurangi kesenjangan itu.

Bicara model pendidikan, saya menyukai model pendidikan di sebuah sekolah bisnis dimana saya pernah belajar pengembangan manajemen. Selain bicara teori, kita juga sangat banyak bicara kasus. Tidak kalah pentingnya, kita juga mesti magang di perusahaan yang bergerak di industri yang samasekali berbeda dengan industri yang sedang dijalani.

Benar-benar memberikan pemahaman yang mendalam dan bekal yang berarti. Pendidikan di perguruan tinggi mengadopsi model yang lebih berorientasi pada kesiapan mahasiswa untuk terjun di dunia kerja.

Sementara cukup banyak yang beranggapan jika perguruan tinggi hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk mampu berpikir, menganalisa dan memecahkan masalah. Padahal, itu saja sudah bagian terbesar yang dibutuhkan perusahaan dari karyawan atau calon karyawannya.

Jadi pertanyaannya, sejauh mana Perguruan Tinggi sudah fokus untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisa dan problem solving? Jika untuk itu saja belum maksimal, ya mahasiswa makin jauh dari siap.

Mestinya juga, perguruan tinggi tidak berhenti pada mengembangkan kemampuan itu. Memberikan pengalaman empiris juga tidak kalah pentingnya bagi perguruan tinggi. Dan pengalaman empiris itu bisa diperoleh melalui magang. Tentunya dengan berbagai catatan, tapi saya yakin itu sebenarnya juga bisa diakomodasi oleh perguruan tinggi.

Apalagi jika mempertimbangkan biaya kuliah yang relatif mahal. Apa gunanya bayar mahal jika hanya sekitar 20-30% pendidikan, atau bahkan kurang, yang bisa diaplikasikan selepas lulus kuliah? Bisa jadi, biaya kuliah mestinya hanya sebesar 20-30% dari biaya saat ini, sesuai dengan kapasitas yang terpakai.

Belum lagi,  jika bicara kesesuaian minat dan bakat mahasiswa dengan jurusan yang dipilihnya. Kalau tidak salah, lebih dari 70% mahasiswa ‘salah’ ambil jurusan. Orang tua turut ambil bagian dalam permasalahan ini. Mereka tidak cukup mengenali minat dan potensi anak-anaknya dan tidak cukup membantu mengarahkan untuk berkembang sesuai minat dan potensinya.

Jelas, kesenjangan makin lebar karena dari awal sudah menyimpang.

Bersaing dengan Tenaga Kerja Asing

Sekitar 3 tahun lalu, saya terlibat dalam manajemen audit di beberapa perusahaan di 11 kota, termasuk Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan. Saya mendapati gambaran kualitas SDM yang cukup memprihatinkan.

Secara rerata, kurang dari 15% karyawannya yang masih memiliki motivasi kerja yang tinggi. Dan dari 15% karyawan itu, lebih sedikit lagi karyawan yang berketerampilan memadai. Semuanya pada level staf.

Kita bisa dengan cepat membayangkan sebuah perusahaan yang mayoritas karyawan tidak cukup memiliki motivasi kerja. Produktivitas yang relatif rendah, kepuasan kerja yang rendah, fraud dan ujung-ujungnya pemborosan.

Dan bicara keterampilan, jika motivasi kerja saja sudah rendah, kita tidak bisa berharap karyawan bakal punya keterampilan yang tinggi.  Gimana mau berkembang, jika semangat belajar dan berkarya sudah rendah? Tinggal nunggu waktunya sebelum dipromosingkirkan. Gimana juga mereka mau bersaing?

Saya kuatir, gambaran itu secara umum juga mencerminkan kualitas SDM Indonesia. Tidak heran jika kualitas SDM kita kalah bersaing dibandingkan Vietnam. Jelas, ketika hendak bicara kehadiran tenaga kerja asing, kita tidak bisa lepas dari kualitas SDM Indonesia.

Kehadiran tenaga kerja asing bisa dilihat dari 2 sisi: ancaman buat ketenagakerjaan Indonesia. Atau, tantangan buat kita untuk meningkatkan daya saing.

Kita tentunya masih berharap tenaga kerja Indonesia masih diterima luas di negara-negara lain. Jika demikian, kita juga harus terbuka dengan tenaga kerja asing di Indonesia. Kita tidak bisa berharap pemerintah menutup pintu sepenuhnya kepada kehadiran tenaga kerja asing. Toh, pemerintah sudah melakukan pembatasan.

Tidak ada jalan yang paling tepat selain peningkatan daya saing SDM Indonesia dalam menghadapi persaingan dengan SDM negara-negara lain. Dan itu menjadi tanggung jawab semua pihak: kita sendiri, pemerintah, institusi pendidikan, pengusaha. Termasuk juga serikat pekerja, yang selain mendorong peningkatan kesejahteraan buruh,  juga mesti lebih fokus pada peningkatan kompetensi anggotanya.

Paling cepat menurut saya, jelas mulai dari diri sendiri. Kita bisa mulai dengan meningkatkan motivasi untuk belajar dan berkarya. Tetapkan tujuan pribadi yang lebih besar dan lebih jauh ke depan. Sadari bahwa tantangan yang kita hadapi tidak akan pernah mudah, dan oleh karenanya membutuhkan utamanya kesiapan mental dan motivasi yang tinggi.

Kita tidak bisa banyak berharap kepada pemerintah, ataupun menunggu kebijakan pemerintah dalam menghadapi persaingan dengan tenaga kerja asing. Bagaimanapun juga, situasi yang kita hadapi sekarang ini, juga tidak lepas dari daya saing Indonesia yang masih relatif rendah. Kembali, daya saing negara relatif rendah, karena daya saing kita sebagai SDM juga relatif rendah.

Jadi jangan terbalik. Daya saing negara baru akan meningkat jika daya saing SDM-nya juga meningkat.

Susahnya Mengenali Diri Sendiri

Pertanyaan tentang ‘Aku, siapakah dan bagaimana Aku’ sepertinya memang jadi salah satu pertanyaan yang paling menarik. Banyak orang ‘memburu jati diri’ dengan mencari tahu karakternya berdasarkan zodiac, shio, garis tangan, tulisan tangan, bentuk muka dan lain-lain.

Banyak di antara kita yang merasa mengenali orang lain, dan kemudian bahkan sampai ‘memberi cap’. Tapi belum tentu sungguh bisa mengenali diri sendiri. Banyak yang masih merasa asing dengan dirinya sendiri.

Selama terlibat dalam proses rekrutmen SDM di perusahaan dimana saya berkarya, bisa dibilang 11 dari 10 orang tidak cukup mengenali diri sendiri. Kok bisa 11? Iya, 10 kandidat yang diwawancarai dan satu lagi, yaitu pewawancaranya sendiri. Hehehe..

Saya rasa ini salah satu problem terbesar SDM di Indonesia, orang-orang yang tidak cukup mengenali diri sendiri. Jika kita tidak sungguh mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa mengembangkan potensi kita sesungguhnya? Bagaimana kita tahu jika kita sudah di ‘jalur yang benar’ saat ini?

Saya beruntung, menjelang kelulusan SMA, ayah saya mengikutkan saya tes IQ dan minat serta bakat yg diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM. Sayangnya, hasilnya hanya dikomunikasikan ke orang tua saya.

Selepas kuliah, saya masih terus akrab dengan tes psikologi dan atau kompetensi. Saya sendiri kemudian juga mempelajari dan menerapkan DISC dan graphologi untuk membantu saya dalam mengenali orang lain: calon karyawan dan anggota tim.

Itu sangat membantu saya untuk memahami apakah karakternya sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. Selain itu, saya juga dapat pemahaman pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk membangun komunikasi sekaligus mengembangkan potensi yang bersangkutan.

Seringkali dalam proses itu, pemahaman saya terhadap orang lain menjadi sangat berbeda. Ada yang semula saya pikir orangnya begini, tapi ternyata begitu. Engga heran banyak orang yang tidak bahagia.

Apakah kita sudah merasa bahagia? Sudah merasa pada jalur yang benar? Sudah berkembang berangkat dari potensi yg sesungguhnya?

Jika belum, besar kemungkinan karena kita belum mengenali diri sendiri.

Cuma Gunting Pita Doank..

Dalam sebuah obrolan singkat di media sosial profesional tentang jalan tol Surabaya-Kertosono yang baru beroperasi, seseorang berkomentar jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya sekedar meresmikan saja proyek itu, atau dalam bahasa yang digunakannya: “..cuma gunting pita doang..”. Dahi saya langsung berkerut, khususnya karena yang bersangkutan adalah seorang manajer top dengan gelar edukasi berderet di belakang namanya.

Masa iya, Presiden Jokowi hanya sekedar menggunting pita (meresmikan) saja? Tapi kok yang bilang adalah orang dengan posisi manajer top dan berpendidikan ya? Tentu saja saya tidak akan heran jika komentar itu dilontarkan oleh orang dengan pendidikan yang relatif rendah dan atau tidak mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia.

Penasaran dengan komentarnya, saya berusaha menggali informasi tentang proyek tol Surabaya – Kertosono itu yang mudah ditemukan di internet. Informasi yang saya dapatkan, CMIIW, proyek itu digagas sejak jaman Presiden Soeharto dan dimulai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek sempat terhenti beberapa tahun sebelum kemudian dilanjutkan pada masa Presiden Jokowi dan diselesaikan akhir tahun 2017 baru lalu.

Berangkat dari informasi itu saja, saya sudah berpikiran bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara melanjutkan dan menyelesaikan dengan sekedar meresmikan saja. Saya lalu menanyakan kepada yang bersangkutan, data dan fakta apa yang mendasari pernyataannya bahwa Presiden saat ini hanya sekedar meresmikan saja.

Saya membayangkan sebagai seorang profesional yang terdidik dan menempati posisi top management, beliau tentu sudah terbiasa berbicara berdasarkan data dan fakta. Jauh dari bayangan saya, bahwa beliau ternyata tidak memberikan data dan fakta yang mendukung klaimnya dan kemudian malah cenderung menyerang personal saya dengan lontaran tudingan bahwa saya mengkultuskan (memuja, menyembah, memuliakan) seseorang, dalam hal ini Presiden Jokowi.

Wow! Melihat caranya menjawab dan berkomunikasi, saya langsung bertanya-tanya bagaimana ia bisa mendapatkan gelar edukasi berderet dan menempati posisi yang tinggi di perusahaan dimana dia berada? Dengan menyuap ya?? Hehehe! Jelas dengan profil yang bersangkutan, saya mengharapkan jawaban yang relevan dengan pertanyaan dan sudah tentu obyektif.

Saya maklum jika yang bersangkutan sebenarnya sadar bahwa dia hanya komentar asal-asalan dan tidak memiliki data dan fakta yang mendukung pernyataannya bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja. Namun, saya merasa ia tidak cukup bertanggung jawab dengan pernyataannya di media sosial profesional dengan para profesional sebagai audiens-nya. Di sisi lain, ia dengan jelas menunjukkan gelar edukasi, jabatannya serta nama perusahaannya dalam profilnya.

IMHO, tanpa disadari, dia telah mempermalukan diri sendiri dan nama perusahaannya.

Saya kemudian mengingatkan bahwa seorang manajer, dan yang sungguh berkualifikasi sebagai manajer, mestinya menyadari jika setiap perubahan dan penundaan suatu proyek akan membutuhkan sebuah perencanaan baru. Kita harus harus memikirkan dan merencanakan kembali proyek itu, bagaimana melanjutkannya, kapan, anggarannya, timeline-nya, dan lain-lain.

Kita tidak bisa sekedar bilang: “Yuk! Kita lanjutkan lagi.” untuk sebuah proyek yang sempat terhenti dalam waktu yang relatif lama dan sudah mundur dari jadwal. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk melanjutkan proyek itu. Bisa jadi pelaksananya tidak bisa meneruskan lagi dan harus mencari pelaksana baru dengan biaya dan waktu pelaksanaan yang berbeda. Bisa jadi kondisi di lapangan sudah jauh berbeda dan oleh karenanya membutuhkan penyesuaian. Banyak hal.

Oleh karena itu, satu sisi kita harus tetap memberikan apresiasi kepada siapapun yang telah memberikan gagasan dan mengawali proyek tol Surabaya-Kertosono. Namun, mengatakan bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja, tanpa memahami proses yang telah berlangsung di balik proyek itu, jelas merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab, sekaligus tidak profesional.

Seorang profesional rasanya juga harus bisa mengakui dan menghargai kinerja dan pencapaian orang lain, sebagaimana ia sendiri juga ingin dihargai dalam profesinya.

Waspadai Bahaya Ketersesatan!

Ketika aktif di kegiatan pencinta alam semasa kuliah S1, ada seorang senior yang menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK) dalam praktik navigasi darat. Menurut Towetz, demikian beliau akrab dipanggil, jika kita memahami dan menguasai IMPK, maka tidak akan ada istilah “tersesat” bagi kita, melainkan sekedar “mengambil jalur yang lebih memutar”.

Dengan penguasaan tersebut, kita menjadi tahu persis posisi kita berada saat ini, titik awal dan titik akhir, serta rute yang telah dan akan kita tempuh mulai dari titik awal hingga titik akhir berikut kondisi medan yang akan kita jumpai; landai, tanjakan, tebing, lembah, punggung, puncak bukit atau gunung.

Berbekal pengetahuan itu, aku dan teman-teman beberapa kali melakukan pendakian gunung melalui rute yang kita tetapkan sendiri, atau istilah kami “buka jalur”.  Sebelum kegiatan berlangsung, kami mempelajari peta topografi gunung yang hendak kami daki. Selanjutnya kami menentukan rute yang hendak kami telusuri untuk mencapai puncak gunung atau sasaran akhir perjalanan.

Ini adalah satu kegiatan yang paling aku sukai. Selain karena meningkatkan ketrampilan IMPK dan survival, kegiatan ini sungguh kental unsur petualangannya. Aku berasa sangat “macho” dan “militan” dalam kegiatan ini. 😀

Jauh berbeda jika kami menempuh jalur yang sudah ada, yang sudah biasa dilalui. Saat melakukan kegiatan “buka jalur”, kami benar-benar bersiap untuk menembus “hutan perawan”. Selain peralatan dan perlengkapan yang lebih banyak, kami tentu harus lebih menguatkan mental. Namun, sudah pasti, jika kami sudah menguasai IMPK, kami boleh berharap kami tidak akan tersesat dalam pelaksanaan “buka jalur” tersebut.

Kami tahu pasti posisi kami saat itu. Kami juga tahu rute yang sudah kami tempuh dari titik keberangkatan, dan rute yang akan kami tempuh dari posisi saat itu menuju titik akhir berikut kondisi medan yang akan kami jumpai.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan bisnis.

Banyak perusahaan yang belum menetapkan tujuan (visi) dan bagaimana tujuan itu hendak dicapai (misi). Atau mereka mungkin sudah menetapkan visi dan misi tersebut, namun kemudian hanya sebatas tercantum dalam akta perusahaan atau pada hiasan dinding di lobi kantor-kantor mereka. Artinya, apa-apa yang hendak dicapai dan bagaimana mencapainya hanya akan merupakan pernyataan dan harapan, namun entah kapan akan menjadi kenyataan.

Itu tidak ubahnya dengan para pendaki yang tersesat. Mereka tidak tahu persis posisi mereka berada terhadap titik awal keberangkatan atau titik akhir. Otomatis, mereka yang tersesat, tidak akan tahu persis kemana mereka harus bergerak. Mereka hanya bisa menduga-duga dan berharap akan menemukan jalur yang membawa mereka kembali pada peradaban.

Jika seorang pendaki tersesat bisa beresiko kehilangan nyawa, demikianlah pula sebuah perusahaan yang “tersesat”. Mereka bisa gulung tikar, bangkrut, tamat. Pun bertahan, perusahaan itu akan cenderung membuang-buang waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada pemborosan waktu dan sumber daya dalam ketersesatan.

Celakanya adalah…

Beberapa dari kita mungkin akan berlama-lama dalam ketersesatan. Bukan karena kita menikmati, melainkan karena.. Kita tidak tahu jika kita tersesat!

Kita terus berjalan, menghabiskan energi dan bekal. Ketika bekal semakin tipis dan nafas sudah tersengal-sengal, kita baru mulai bertanya-tanya: “Kok belum sampai ya?” atau “Kok kayaknya cuma ‘di sini-sini’ aja ya?” Dan kemudian mendadak kita menghadapi krisis, dan sayangnya tak lagi cukup punya tenaga untuk keluar darinya.

Tidak ada yang lebih aman ketimbang senantiasa menyadari penuh dimana posisi kita saat ini, kemana kita hendak menuju, kapan, apa saja yang akan kita hadapi, dengan cara apa dan bagaimana serta siapa melakukan apa.

Jadi, dimana posisi kita saat ini?

Manusia Normal yang Berkebutuhan Khusus

Saya punya anak sulung yang berkebutuhan khusus. Orang bilang butuh kesabaran lebih untuk membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Tidak demikian bagi saya, dan sebaliknya, aneh jika orang harus punya kesabaran lebih menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus.

Kesadaran jika si buah hati ataupun seseorang berkebutuhan khusus menghadirkan pemakluman. Pemakluman menghadirkan penerimaan, dan penerimaan menghadirkan kesabaran. Sesederhana itu.

Jadi, jika orang merasa harus lebih bersabar menghadapi anak-anak yang berkebutuhan khusus, rasanya semata-mata karena yang bersangkutan belum cukup menyadari.

Manusia-manusia yang disebut normal, apalagi berpendidikan tinggi, seringkali justru menuntut kesabaran lebih. Tak jarang mereka diharapkan dan atau diduga akan berpikir, bersikap, berucap dan bertindak sesuai dengan pendidikannya. 

Seringkali harapan atau dugaan itu tidak terwujud, dan di situlah saya merasa kita harus lebih bersabar justru kepada orang-orang yang katanya normal.

Dulu tak jarang saya melontarkan kata-kata: “Masa kayak gini saja harus dikasih tau? Atau, “Apa harus diingetin terus?” Dan kata-kata lainnya yang menunjukkan ketidaksabaran. Bahkan pernah sekali, terucap: “Kamu itu sudah goblok tapi sok tau dan ngeyelan!”. 

Saya sempat stress ketika disuruh mengelola SDM. Tensi darah yang biasanya rendah, jadi cenderung tinggi dan dulu sempat menyentuh angka 140 lebih di usia yang masih 30an. Bobot anjlok dari 95an kg jadi 75an. Orang bilang saya lebih terlihat ganteng, tapi yang bener sajalah. Masa ganteng karena penderitaan?

Itu sepenuhnya karena saya tidak sadar, tidak tahu, jika manusia-manusia normal pun berkebutuhan khusus. Saya menjadi merasa sangat asing dengan yang namanya manusia, dan saya tidak tahu bagaimana saya mesti menghadapinya. Padahal salah satu tugas dan tanggung jawab utama saya adalah mengelola dan mengembangkan SDM di tempat saya berkarya, sekaligus menjadi tanggung jawab terberat.

Ketidaktahuan saya mendorong untuk membaca lebih banyak buku, dan mengikuti kursus pelatihan serta diskusi tentang SDM. Ada 5 alat sederhana yang kemudian hingga kini masih saya gunakan untuk membantu saya dalam memahami orang lain, yaitu: DISC, Grafologi, Empati, Pikiran yang bersih dan tidak berprasangka serta.., Indera ke-6. 😀 

Pada perkembangannya, saya memiliki pandangan, jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari seseorang, kita harus terlebih dulu memahaminya. Mendorong orang lain untuk melakukan yang terbaik seringkali harus diawali dengan interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif.

IMHO, interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif itu sendiri harus diawali dengan pemahaman akan dan penyesuaian terhadap karakter orang itu. Saya menghindari memberikan kritikan pedas kepada orang dengan karakter “entertainer”di depan orang banyak, karena itu bisa sangat men-‘demotivasi’. 

Sebaliknya jika hal yang sama saya lakukan kepada orang dengan karakter “fighter”, sangat mungkin itu justru memberikan motivasi yang besar kepada yang bersangkutan. Itu gambaran sederhananya.

Pada akhirnya, kita semua adalah pribadi yang unik dan oleh karenanya berkebutuhan khusus. Dengan demikian, hanya ada 2 jenis manusia: Manusia yang berkebutuhan khusus dan manusia yang belum menyadari jika mereka berkebutuhan khusus.

People with Dissabilities