Waspadai Bahaya Ketersesatan!

Ketika aktif di kegiatan pencinta alam semasa kuliah S1, ada seorang senior yang menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK) dalam praktik navigasi darat. Menurut Towetz, demikian beliau akrab dipanggil, jika kita memahami dan menguasai IMPK, maka tidak akan ada istilah “tersesat” bagi kita, melainkan sekedar “mengambil jalur yang lebih memutar”.

Dengan penguasaan tersebut, kita menjadi tahu persis posisi kita berada saat ini, titik awal dan titik akhir, serta rute yang telah dan akan kita tempuh mulai dari titik awal hingga titik akhir berikut kondisi medan yang akan kita jumpai; landai, tanjakan, tebing, lembah, punggung, puncak bukit atau gunung.

Berbekal pengetahuan itu, aku dan teman-teman beberapa kali melakukan pendakian gunung melalui rute yang kita tetapkan sendiri, atau istilah kami “buka jalur”.  Sebelum kegiatan berlangsung, kami mempelajari peta topografi gunung yang hendak kami daki. Selanjutnya kami menentukan rute yang hendak kami telusuri untuk mencapai puncak gunung atau sasaran akhir perjalanan.

Ini adalah satu kegiatan yang paling aku sukai. Selain karena meningkatkan ketrampilan IMPK dan survival, kegiatan ini sungguh kental unsur petualangannya. Aku berasa sangat “macho” dan “militan” dalam kegiatan ini. 😀

Jauh berbeda jika kami menempuh jalur yang sudah ada, yang sudah biasa dilalui. Saat melakukan kegiatan “buka jalur”, kami benar-benar bersiap untuk menembus “hutan perawan”. Selain peralatan dan perlengkapan yang lebih banyak, kami tentu harus lebih menguatkan mental. Namun, sudah pasti, jika kami sudah menguasai IMPK, kami boleh berharap kami tidak akan tersesat dalam pelaksanaan “buka jalur” tersebut.

Kami tahu pasti posisi kami saat itu. Kami juga tahu rute yang sudah kami tempuh dari titik keberangkatan, dan rute yang akan kami tempuh dari posisi saat itu menuju titik akhir berikut kondisi medan yang akan kami jumpai.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan bisnis.

Banyak perusahaan yang belum menetapkan tujuan (visi) dan bagaimana tujuan itu hendak dicapai (misi). Atau mereka mungkin sudah menetapkan visi dan misi tersebut, namun kemudian hanya sebatas tercantum dalam akta perusahaan atau pada hiasan dinding di lobi kantor-kantor mereka. Artinya, apa-apa yang hendak dicapai dan bagaimana mencapainya hanya akan merupakan pernyataan dan harapan, namun entah kapan akan menjadi kenyataan.

Itu tidak ubahnya dengan para pendaki yang tersesat. Mereka tidak tahu persis posisi mereka berada terhadap titik awal keberangkatan atau titik akhir. Otomatis, mereka yang tersesat, tidak akan tahu persis kemana mereka harus bergerak. Mereka hanya bisa menduga-duga dan berharap akan menemukan jalur yang membawa mereka kembali pada peradaban.

Jika seorang pendaki tersesat bisa beresiko kehilangan nyawa, demikianlah pula sebuah perusahaan yang “tersesat”. Mereka bisa gulung tikar, bangkrut, tamat. Pun bertahan, perusahaan itu akan cenderung membuang-buang waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada pemborosan waktu dan sumber daya dalam ketersesatan.

Celakanya adalah…

Beberapa dari kita mungkin akan berlama-lama dalam ketersesatan. Bukan karena kita menikmati, melainkan karena.. Kita tidak tahu jika kita tersesat!

Kita terus berjalan, menghabiskan energi dan bekal. Ketika bekal semakin tipis dan nafas sudah tersengal-sengal, kita baru mulai bertanya-tanya: “Kok belum sampai ya?” atau “Kok kayaknya cuma ‘di sini-sini’ aja ya?” Dan kemudian mendadak kita menghadapi krisis, dan sayangnya tak lagi cukup punya tenaga untuk keluar darinya.

Tidak ada yang lebih aman ketimbang senantiasa menyadari penuh dimana posisi kita saat ini, kemana kita hendak menuju, kapan, apa saja yang akan kita hadapi, dengan cara apa dan bagaimana serta siapa melakukan apa.

Jadi, dimana posisi kita saat ini?

Manusia Normal yang Berkebutuhan Khusus

Saya punya anak sulung yang berkebutuhan khusus. Orang bilang butuh kesabaran lebih untuk membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Tidak demikian bagi saya, dan sebaliknya, aneh jika orang harus punya kesabaran lebih menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus.

Kesadaran jika si buah hati ataupun seseorang berkebutuhan khusus menghadirkan pemakluman. Pemakluman menghadirkan penerimaan, dan penerimaan menghadirkan kesabaran. Sesederhana itu.

Jadi, jika orang merasa harus lebih bersabar menghadapi anak-anak yang berkebutuhan khusus, rasanya semata-mata karena yang bersangkutan belum cukup menyadari.

Manusia-manusia yang disebut normal, apalagi berpendidikan tinggi, seringkali justru menuntut kesabaran lebih. Tak jarang mereka diharapkan dan atau diduga akan berpikir, bersikap, berucap dan bertindak sesuai dengan pendidikannya. 

Seringkali harapan atau dugaan itu tidak terwujud, dan di situlah saya merasa kita harus lebih bersabar justru kepada orang-orang yang katanya normal.

Dulu tak jarang saya melontarkan kata-kata: “Masa kayak gini saja harus dikasih tau? Atau, “Apa harus diingetin terus?” Dan kata-kata lainnya yang menunjukkan ketidaksabaran. Bahkan pernah sekali, terucap: “Kamu itu sudah goblok tapi sok tau dan ngeyelan!”. 

Saya sempat stress ketika disuruh mengelola SDM. Tensi darah yang biasanya rendah, jadi cenderung tinggi dan dulu sempat menyentuh angka 140 lebih di usia yang masih 30an. Bobot anjlok dari 95an kg jadi 75an. Orang bilang saya lebih terlihat ganteng, tapi yang bener sajalah. Masa ganteng karena penderitaan?

Itu sepenuhnya karena saya tidak sadar, tidak tahu, jika manusia-manusia normal pun berkebutuhan khusus. Saya menjadi merasa sangat asing dengan yang namanya manusia, dan saya tidak tahu bagaimana saya mesti menghadapinya. Padahal salah satu tugas dan tanggung jawab utama saya adalah mengelola dan mengembangkan SDM di tempat saya berkarya, sekaligus menjadi tanggung jawab terberat.

Ketidaktahuan saya mendorong untuk membaca lebih banyak buku, dan mengikuti kursus pelatihan serta diskusi tentang SDM. Ada 5 alat sederhana yang kemudian hingga kini masih saya gunakan untuk membantu saya dalam memahami orang lain, yaitu: DISC, Grafologi, Empati, Pikiran yang bersih dan tidak berprasangka serta.., Indera ke-6. 😀 

Pada perkembangannya, saya memiliki pandangan, jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari seseorang, kita harus terlebih dulu memahaminya. Mendorong orang lain untuk melakukan yang terbaik seringkali harus diawali dengan interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif.

IMHO, interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif itu sendiri harus diawali dengan pemahaman akan dan penyesuaian terhadap karakter orang itu. Saya menghindari memberikan kritikan pedas kepada orang dengan karakter “entertainer”di depan orang banyak, karena itu bisa sangat men-‘demotivasi’. 

Sebaliknya jika hal yang sama saya lakukan kepada orang dengan karakter “fighter”, sangat mungkin itu justru memberikan motivasi yang besar kepada yang bersangkutan. Itu gambaran sederhananya.

Pada akhirnya, kita semua adalah pribadi yang unik dan oleh karenanya berkebutuhan khusus. Dengan demikian, hanya ada 2 jenis manusia: Manusia yang berkebutuhan khusus dan manusia yang belum menyadari jika mereka berkebutuhan khusus.

People with Dissabilities

Si Monyet

Salah satu novel favorit saya adalah “Taiko” yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa, penulis yang sama novel legendaris “Musashi”. Tidak sedikit orang penggemar Musashi yang belum pernah mendengar novel Taiko ini, padahal menurut saya, isinya jauh lebih menarik ketimbang Musashi.

Lebih dari sekedar kisah perjalanan hidup seorang tokoh Jepang, Taiko juga memaparkan strategi kepemimpinan dan perang yang hingga kini masih relevan untuk diterapkan. Tidak saja menyangkut militerisme, tapi juga bisnis, sama seperti Strategi Perang Sun Tzu.

Saya teringat novel Taiko gegara membaca berita tentang Jokowi yang secara tidak langsung mengatakan wajahnya bukanlah wajah diktator. Baca: Wajah Begini Kok Dibilang Diktator. Seperti apa sih wajah diktator? Saya sendiri tidak tahu persis. Saya juga tidak tahu sejauh mana kemiripan wajah antara Jokowi dengan wajah diktator.

Hanya memang, kita mungkin bisa sepakati satu hal, wajah Jokowi bukanlah tipikal wajah seorang model foto. Demikian pula wajah Toyotomi Hideyoshi, pemimpin besar pemersatu Jepang yang menjadi tokoh utama dalam Taiko.

Lahir dalam keluarga petani miskin, Hideyoshi kerap dijuluki “Si Monyet” oleh majikan, rekan-rekannya dan juga musuh-musuhnya. Dengan julukan itu, kita bisa langsung membayangkan jika penampilan Hideyoshi jauh dari penampilan yang memikat secara fisik dalam pandangan umum. Kurus, kerempeng, singkatnya, tidak meyakinkan.

Tapi siapa mengira? Dari seorang pesuruh, Hideyoshi mampu menjadi seorang pemimpin besar, pemersatu Jepang berkat keahliannya di bidang politik dan militer. Salah satu keahliannya adalah menaklukan musuhnya tanpa melalui peperangan melalui langkah diplomasi.

Meski dikenal memiliki karakter periang, suka bercanda dan mau merendahkan diri di hadapan musuhnya, Hideyoshi juga penuh tipu muslihat dan tak segan-segan bertindak tiada ampun kepada mereka yang melawan kehendaknya.

Saya pertama kali membaca novel Taiko ini saat SMP dan sejak itu saya berusaha untuk tidak pernah menilai orang dari penampilannya. Sangat mungkin dan seringkali penampilan adalah tipuan belaka.

Generasi Milenial, Generasi “Kurang Ajar”

Generasi Milenial, disebut juga Generasi Y, adalah generasi yang menurut beberapa definisi yang saya temui, lahir antara tahun 1980 – 2000. Itu berarti generasi yang kini berusia 17 – 37 tahun. Disebut milenial karena melewati milenium kedua sejak teori generasi ini dicetuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada tahun 1923.

Saya berinteraksi secara intensif dengan generasi milenial pertama kali pada tahun 2007 saat bertugas di sebuah radio siaran swasta. Saya merekrut muda-mudi milenial untuk meremajakan dan menyegarkan warna siaran radio tersebut baik dari sisi konten ataupun kemasan siaran.

Sebuah proses interaksi yang kemudian lumayan menahan laju perkembangan mental saya. *ngakak

Dalam kesempatan berkarya di perusahaan-perusahaan selanjutnya hingga saat ini, saya juga masih bertemu dan bekerja sama dengan generasi yang unyu-unyu itu. Cukup banyak di antara mereka yang menempati posisi manajerial.

Saya mesti berterus-terang. Ada masa-masa di waktu lampau dimana saya mengeluhkan generasi itu. Tidak bermaksud menggeneralisir, saya sering menganggap jika mereka adalah orang-orang yang ‘kurang ajar’.

Anggapan itu muncul ketika terlibat dalam proses rekrutmen, saya menjumpai muda-mudi milenial yang kurang cakap tapi sangat percaya diri. Khususnya dalam meminta gaji yang relatif tinggi. *ngakak lagi.

Bukan itu saja. Sudah minta gajinya tinggi, kerja engga disiplin, dan bentaran doank sudah mengundurkan diri.

Saat diskusi tentang SDM milenial, saya bahkan juga pernah berujar: “Jangan pernah ngarepin loyalitas dari anak-anak sekarang (milenial) deh. Loyalitas mereka hanya kepada arah kemana angin berhembus”. Ujaran itupun secara sembrono diaminin oleh teman-teman diskusi.

Ujaran yang lebih mencerminkan keputusasaan karena tidak mampu memahami bagaimana caranya menciptakan dan mempertahankan loyalitas mereka.

Berhubung perusahaan semakin bergantung pada kehadiran mereka, mau tidak mau saya harus lebih membuka pikiran, merubah sudut pandang dan lebih toleran. Lebih dari itu, saya juga mesti merubah diri jadi generasi milenial untuk bisa lebih memahami mereka.
20264801_10213936165659917_1742852548722213914_n

Pada perkembangannya, saya punya pandangan jika: Generasi milenial adalah generasi yang sangat “praktis”: prosedur standar, jam kerja, formalitas adalah hal-hal yang mengusik kenyamanan mereka, sekaligus menghambat produktivitas serta kreativitasnya.

Dan jika bicara kreativitas, generasi yang hidup dan bergelut dengan internet dan media sosial ini adalah orang-orang yang kreatif. Ini sekaligus menghadirkan tantangan bagi generasi saya untuk bisa terus memupuk dan mengembangkan serta mengarahkan kreativitas mereka.

Dalam proses kreatif itu, saya cenderung menahan diri untuk tidak mengkritisi ide-ide kreatif yang mereka munculkan. Pun jika ada ide yang cenderung tidak selaras dengan pandangan saya, ketimbang menolak atau mengkritisi, saya akan menguji ide mereka dengan mengajukan pertanyaan: “Oke, terus gimana kalo…?”.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari segala sisi, mereka pada akhirnya bisa menyimpulkan sendiri apakah ide mereka bisa diujudkan ataukah belum bisa diujudkan. Mereka sendiri yang menjadi penentu, pengambil keputusan.

Ini juga berlaku dalam menetapkan target. Generasi Mileneal adalah generasi yang menetapkan target. Maksudnya, pencapaian target akan lebih optimal jika mereka dilibatkan dalam penetapannya. Bahkan, lebih dari sekedar dilibatkan, akan lebih optimal jika mereka diarahkan untuk bisa menetapkan targetnya sendiri.

Akhir kata, pendekatan untuk generasi milenial sungguh sebuah “seni membebaskan”. Pastinya, pendekatan ala ‘jaman saya dulu’ adalah pendekatan yang akan mempercepat munculnya kesan bahwa mereka tidak cukup punya loyalitas, tidak cukup punya komitmen.

Ujung-ujungnya, kita hanya bisa komentar: “Ini orang kurang ajar banget.”

Being The Best of What? What for?

Dulu sempat dipindahtugaskan ke satu perusahaan yang selalu merugi selama 10 tahun berturut-turut. Statusnya sebagai satu anak perusahaan sebuah korporasi yang besarlah yang menjadikannya ia tetap bertahan dengan subsidi.

Ada satu karyawan penjualan yang merupakan top scorer. Penjualannya paling tinggi dibandingkan rekan satu timnya. Pencapaiannya itu jelas patut diapresiasi, namun sisi lain, sikap bangga dan berpuas dirinya mengingatkan saya akan kecenderungan perilaku banyak orang Indonesia yang saya jumpai.

Sejak jadi kuli tahun 2000 lalu, saya merasa banyak orang Indonesia yang menunjukkan kecenderungan gampang mengeluh di satu sisi, tapi juga cepat puas di sisi lain. Karyawan penjualan yang saya sebutkan di awal juga menunjukkan hal yang sama.

Jika dibandingkan dengan target individu yang harus dia capai, pencapaiannya masih jauh lebih rendah. Namun, hanya karena pencapaiannya paling tinggi, dia sudah berpuas diri dan akhirnya gampang ditebak, perkembangannya berhenti.

Tingkat kepuasannya sebatas pada “terbaik di antara yang buruk”. So tidak heran jika target penjualan tidak pernah tercapai, sementara pengeluaran selalu lebih besar dan akhirnya perusahaan selalu merugi.

Business is about being the best that you can be

Saya merasa banyak di antara kita yang menetapkan tolak ukur pencapaian berdasarkan apa yang kita lihat dan pahami di luar diri kita. Sebaliknya, sangat sedikit yang menetapkannya berdasarkan apa yang kita sadari sebagai kemampuan diri.

Gambaran sederhananya, jika perusahaan menetapkan target 10, sementara kalau kita menyadari kemampuan diri, sebenarnya kita sangat mampu mencapai angka 20, dengan sumber daya dan dukungan yang sama.

Mana target yang hendak kita sasar? Target dari perusahaan atau target dari sendiri yang lebih tinggi ketimbang target yang ditetapkan atasan?

Saya percaya mereka yang menyadari penuh kapasitas diri, tidak akan berpuas dengan target yang lebih rendah ketimbang apa yang sesungguhnya bisa mereka capai. Menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain oleh karenanya menjadi hal yang relatif tidak penting.

Jauh lebih penting adalah menyadari sepenuhnya kapasitas dan kapabilitas diri, dan meningkatkannya dari waktu ke waktu. Orang-orang seperti itu, tanpa perlu pengakuan, hampir pasti menjadi orang yang terbaik di lingkungannya.

Khususnya jika lingkungannya di Indonesia. Lingkungan dimana banyak orang yang gampang mengeluh, sekaligus cepat berpuas diri.

Manajer Keuangan yang Baik adalah Pengelola Keuangan Rumah Tangga yang Baik

“Kalau mau cari Manajer Keuangan dengan karakter yang OK, lihat anggaran rumah tangganya”, saran seorang kawan bertahun-tahun lampau. Dan memang, sejak pertama kali mendengarkan saran itu hingga belum lama lalu, saya telah menjumpai beberapa penanggung jawab pengelolaan keuangan perusahaan yang tidak cukup fokus pada pengelolaan keuangan rumah tangganya.

Belum lama lalu, seorang relasi mengeluhkan keuangan rumah tangganya. Dia bercerita bagaimana gajinya yang relatif tinggi makin dirasa kurang. Padahal ia adalah seorang Manajer Keuangan di sebuah perusahaan yang mapan.

Profesi dan jabatan di sebuah seringkali tidak tercermin dalam kehidupan rumah tangga. Padahal saya sendiri juga tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan antara mengelola perusahaan dengan mengelola rumah tangga.

Banyak kesamaan antara mengelola perusahaan dengan rumah tangga. Satu perbedaan yang nyata mungkin hanyalah, sekalinya kita menjadi seorang anggota keluarga, maka status itu akan melekat sampai mati. Secara pribadi, saya tidak mungkin “memecat” seorang istri ataupun anak-anak. Pengelolaan rumah tangga oleh karenanya menjadi jauh lebih menantang.

Sementara salah satu persamaan antara perusahaan dan rumah tangga adalah ‘keuangan’. Saya lumayan mempercayai asumsi “jika kita tidak mampu mengelola keuangan rumah tangga, maka kita tidak akan mampu mengelola keuangan perusahaan.”

Terpicu oleh saran yang dulu disampaikan oleh kawan, sayapun mulai lebih perhatian pada pengelolaan keuangan rumah tangga. Pada prakteknya, saya mempercayakan pengelolaan keuangan rumah tangga pada istri saya. Dia bertindak sebagai manajer keuangan kami.

Kami mengawali perencanaan keuangan dengan fokus pada arus kas rumah tangga selama 1 tahun. Kami menganggarkan semua pemasukan dan pengeluaran setiap bulan selama 12 bulan. Targetnya adalah ada tabungan di akhir tahun, minimal 20% dari total pemasukan.

Apabila target tabungan belum tercapai atau bahkan terjadi defisit, kami segera mengevaluasi rencana pengeluaran. Pengeluaran konsumtif jelas menjadi sasaran pertama kami.

Beberapa orang mungkin merasa sudah menekan pengeluaran sedemikian rupa tapi masih terjadi defisit. Jika benar demikian, maka hal yang bisa dilakukan adalah mendapatkan dana segar tambahan melalui peningkatan pendapatan dan atau melepas aset.

Pilihan terakhir adalah mengajukan kredit. Saya sendiri hanya mengajukan kredit untuk mendorong produktivitas yang pada akhirnya memberikan pemasukan tambahan jauh lebih besar ketimbang kewajiban.

Setelah menyusun perencanaan arus kas selama 1 tahun, kami terus mengevaluasi akurasi realisasinya setiap bulan. Selanjutnya, dari 1 tahun, kami susun perencanaan hingga 2 dan kemudian 5 tahun.

Keuangan Rumah Tangga

Saya jadi ingat, Bapak almarhum yang seorang tentara, telah menyusun rencana keuangan selama belasan tahun ke depan. Ketika saya masih SMP, Beliau memperlihatkan rencana keuangan hingga saya lulus kuliah dalam waktu 5 tahun di perguruan tinggi negeri. Itu berarti perencanaan untuk 9- 12 tahun ke depan.

Beliau selalu mengingatkan saya jika setelah lulus SMA, saya hanya punya pilihan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) atau AKABRI atau bekerja. Saya tidak ada pilihan untuk sekolah di PTS karena Bapak tidak punya anggaran dana untuk itu. Alhamdulillah, saya bisa menyesuaikan diri dengan anggaran Bapak, seorang perwira TNI idealis yang mengandalkan pendapatannya hanya dari gaji.

Bicara arus kas, sebenarnya tidak lebih dari penyeimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Sederhana sekali. Teramat mudah. Menjadi sulit ketika kita tidak cukup memiliki komitmen dengan apa yang sudah kita rencanakan atau bisa juga tidak cukup cermat dalam merancang perencanaan. Banyak hal-hal yang terlewatkan dan tidak masuk dalam perencanaan.

Demikianlah, seorang Manajer Keuangan yang baik adalah pengelola keuangan rumah tangga yang baik.

Pro Life

Setelah melakukan audit bisnis sebuah jaringan toko-toko buku nasional sekitar 10 tahun yang lalu, saya jadi punya persepsi dan keyakinan tertentu menyangkut bagaimana alam bekerja. Persepsi itu juga mengingatkan jika manusia harus lebih berorientasi kepada keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan sebagai bentuk tanggung jawab atas penciptaan manusia.

Jejaring toko buku sangat akrab dengan yang namanya Prinsip Pareto atau yang juga dikenal dengan prinsip 80-20(%). Oleh karena keterbatasan space atau ruang penjualan, toko buku dituntut untuk fokus pada sekitar 20-25% judul buku yang memberikan kontribusi penjualan terbesar.

Faktual, Prinsip Pareto ini jadi semacam hukum alam di seluruh toko buku yang saya audit, toko-toko buku di 5 kota: Jakarta, Depok, Jogja, Surabaya dan Malang. Bahwa sekitar 75-80% penjualan buku dikontribusikan hanya oleh sebagian kecil judul buku yang dipajang; sekitar 20-25% judul buku. Setiap toko buku menunjukkan kecenderungan yang sama.

Bagaimana kemudian toko-toko buku itu sebaiknya fokus pada penerapan Prinsip Pareto? Salah satunya adalah menempatkan judul-judul buku itu pada posisi dan di rak-rak buku yang ‘mudah dilihat’ oleh pembeli, pada rak-rak buku di jalur utama yang sering dilintasi oleh pembeli.

Selain itu, ketika judul-judul buku baru masuk sementara space penjualan, maka buku-buku yang memberikan kontribusi terendah harus siap disingkirkan. Secara umum, buku-buku yang kontennya dinilai kurang berkualitas dan kurang menarik serta pergerakannya lamban (kurang atau tidak laku), akan menjadi buku-buku pertama yang disingkirkan dari rak-rak pemajangan.

Dengan demikian, fokus pada buku-buku yang paling memberikan kontribusi pada penjualan, adalah salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan ‘hidup’ toko-toko buku. Sekali lagi, menjaga keberlangsungan ‘hidup’.

Lebih lanjut, banyak di antara kita yang mestinya sudah mengetahui bagaimana Prinsip Pareto ini berjalan di kehidupan kita masing-masing, di sekitar kita. Bagi saya pribadi, Prinsip Pareto ini juga menghadirkan pemikiran tentang bagaimana manusia sebaiknya menjalankan kehidupannya.

Jika dikaitkan dengan tujuan hidup manusia, secara pribadi, kita masing-masing pasti punya tujuan yang berbeda. Namun, mungkin tidak ada yang pernah tahu apa tujuan sesungguhnya manusia diciptakan.

Satu hal yang pasti menurut saya, jika kita yakin bahwa kehadiran manusia di atas bumi adalah baik adanya, maka hal yang harus dilakukan adalah menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Tidakkah itu adalah bentuk rasa syukur kita atas penciptaan manusia?

Sementara yang terjadi saat ini, manusia terus bertambah tapi tidak diikuti dengan kesadaran yang cukup kuat untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Sebaliknya, manusia malah mengancam keberlangsungan hidupnya. Bukan kehidupan manusia belaka, tapi juga keberlangsungan hidup semua makhluk hidup. Manusia menjadi ancaman bagi semesta alam. Manusia menjadi virus bagi bumi.

Demikianlah ujaran yang disampaikan oleh Samuel L. Jackson selaku pemeran antagonis dalam film “Kingsman: The Secret Service” (2014) menjadi sangat relevan:

When you get a virus, you get a fever. That’s the human body raising its core temperature to kill the virus. Planet Earth works the same way: Global warming is the fever, mankind is the virus. We’re making our planet sick. A cull is our only hope. If we don’t reduce our population ourselves, there’s only one of two ways this can go: The host kills the virus, or the virus kills the host. Either way… (The result is just the same, the virus dies)“.

So, ketimbang menjadi virus yang harus dipunahkan untuk menjaga keberlangsungan hidup di atas muka bumi, manusia perlu lebih berorientasi pada keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Menjaga keberlangsungan hidup manusia melalui tindakan yang mengedepankan kesehatan dan keselamatan tidak saja diri sendiri, melainkan juga lingkungan hidup adalah hal yang bisa kita lakukan.

Demikianlah kita menjadi buku-buku yang lebih memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan toko buku.