Susahnya Mengenali Diri Sendiri

Pertanyaan tentang ‘Aku, siapakah dan bagaimana Aku’ sepertinya memang jadi salah satu pertanyaan yang paling menarik. Banyak orang ‘memburu jati diri’ dengan mencari tahu karakternya berdasarkan zodiac, shio, garis tangan, tulisan tangan, bentuk muka dan lain-lain.

Banyak di antara kita yang merasa mengenali orang lain, dan kemudian bahkan sampai ‘memberi cap’. Tapi belum tentu sungguh bisa mengenali diri sendiri. Banyak yang masih merasa asing dengan dirinya sendiri.

Selama terlibat dalam proses rekrutmen SDM di perusahaan dimana saya berkarya, bisa dibilang 11 dari 10 orang tidak cukup mengenali diri sendiri. Kok bisa 11? Iya, 10 kandidat yang diwawancarai dan satu lagi, yaitu pewawancaranya sendiri. Hehehe..

Saya rasa ini salah satu problem terbesar SDM di Indonesia, orang-orang yang tidak cukup mengenali diri sendiri. Jika kita tidak sungguh mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa mengembangkan potensi kita sesungguhnya? Bagaimana kita tahu jika kita sudah di ‘jalur yang benar’ saat ini?

Saya beruntung, menjelang kelulusan SMA, ayah saya mengikutkan saya tes IQ dan minat serta bakat yg diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM. Sayangnya, hasilnya hanya dikomunikasikan ke orang tua saya.

Selepas kuliah, saya masih terus akrab dengan tes psikologi dan atau kompetensi. Saya sendiri kemudian juga mempelajari dan menerapkan DISC dan graphologi untuk membantu saya dalam mengenali orang lain: calon karyawan dan anggota tim.

Itu sangat membantu saya untuk memahami apakah karakternya sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. Selain itu, saya juga dapat pemahaman pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk membangun komunikasi sekaligus mengembangkan potensi yang bersangkutan.

Seringkali dalam proses itu, pemahaman saya terhadap orang lain menjadi sangat berbeda. Ada yang semula saya pikir orangnya begini, tapi ternyata begitu. Engga heran banyak orang yang tidak bahagia.

Apakah kita sudah merasa bahagia? Sudah merasa pada jalur yang benar? Sudah berkembang berangkat dari potensi yg sesungguhnya?

Jika belum, besar kemungkinan karena kita belum mengenali diri sendiri.

Cuma Gunting Pita Doank..

Dalam sebuah obrolan singkat di media sosial profesional tentang jalan tol Surabaya-Kertosono yang baru beroperasi, seseorang berkomentar jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya sekedar meresmikan saja proyek itu, atau dalam bahasa yang digunakannya: “..cuma gunting pita doang..”. Dahi saya langsung berkerut, khususnya karena yang bersangkutan adalah seorang manajer top dengan gelar edukasi berderet di belakang namanya.

Masa iya, Presiden Jokowi hanya sekedar menggunting pita (meresmikan) saja? Tapi kok yang bilang adalah orang dengan posisi manajer top dan berpendidikan ya? Tentu saja saya tidak akan heran jika komentar itu dilontarkan oleh orang dengan pendidikan yang relatif rendah dan atau tidak mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia.

Penasaran dengan komentarnya, saya berusaha menggali informasi tentang proyek tol Surabaya – Kertosono itu yang mudah ditemukan di internet. Informasi yang saya dapatkan, CMIIW, proyek itu digagas sejak jaman Presiden Soeharto dan dimulai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek sempat terhenti beberapa tahun sebelum kemudian dilanjutkan pada masa Presiden Jokowi dan diselesaikan akhir tahun 2017 baru lalu.

Berangkat dari informasi itu saja, saya sudah berpikiran bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara melanjutkan dan menyelesaikan dengan sekedar meresmikan saja. Saya lalu menanyakan kepada yang bersangkutan, data dan fakta apa yang mendasari pernyataannya bahwa Presiden saat ini hanya sekedar meresmikan saja.

Saya membayangkan sebagai seorang profesional yang terdidik dan menempati posisi top management, beliau tentu sudah terbiasa berbicara berdasarkan data dan fakta. Jauh dari bayangan saya, bahwa beliau ternyata tidak memberikan data dan fakta yang mendukung klaimnya dan kemudian malah cenderung menyerang personal saya dengan lontaran tudingan bahwa saya mengkultuskan (memuja, menyembah, memuliakan) seseorang, dalam hal ini Presiden Jokowi.

Wow! Melihat caranya menjawab dan berkomunikasi, saya langsung bertanya-tanya bagaimana ia bisa mendapatkan gelar edukasi berderet dan menempati posisi yang tinggi di perusahaan dimana dia berada? Dengan menyuap ya?? Hehehe! Jelas dengan profil yang bersangkutan, saya mengharapkan jawaban yang relevan dengan pertanyaan dan sudah tentu obyektif.

Saya maklum jika yang bersangkutan sebenarnya sadar bahwa dia hanya komentar asal-asalan dan tidak memiliki data dan fakta yang mendukung pernyataannya bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja. Namun, saya merasa ia tidak cukup bertanggung jawab dengan pernyataannya di media sosial profesional dengan para profesional sebagai audiens-nya. Di sisi lain, ia dengan jelas menunjukkan gelar edukasi, jabatannya serta nama perusahaannya dalam profilnya.

IMHO, tanpa disadari, dia telah mempermalukan diri sendiri dan nama perusahaannya.

Saya kemudian mengingatkan bahwa seorang manajer, dan yang sungguh berkualifikasi sebagai manajer, mestinya menyadari jika setiap perubahan dan penundaan suatu proyek akan membutuhkan sebuah perencanaan baru. Kita harus harus memikirkan dan merencanakan kembali proyek itu, bagaimana melanjutkannya, kapan, anggarannya, timeline-nya, dan lain-lain.

Kita tidak bisa sekedar bilang: “Yuk! Kita lanjutkan lagi.” untuk sebuah proyek yang sempat terhenti dalam waktu yang relatif lama dan sudah mundur dari jadwal. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk melanjutkan proyek itu. Bisa jadi pelaksananya tidak bisa meneruskan lagi dan harus mencari pelaksana baru dengan biaya dan waktu pelaksanaan yang berbeda. Bisa jadi kondisi di lapangan sudah jauh berbeda dan oleh karenanya membutuhkan penyesuaian. Banyak hal.

Oleh karena itu, satu sisi kita harus tetap memberikan apresiasi kepada siapapun yang telah memberikan gagasan dan mengawali proyek tol Surabaya-Kertosono. Namun, mengatakan bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja, tanpa memahami proses yang telah berlangsung di balik proyek itu, jelas merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab, sekaligus tidak profesional.

Seorang profesional rasanya juga harus bisa mengakui dan menghargai kinerja dan pencapaian orang lain, sebagaimana ia sendiri juga ingin dihargai dalam profesinya.

Waspadai Bahaya Ketersesatan!

Ketika aktif di kegiatan pencinta alam semasa kuliah S1, ada seorang senior yang menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK) dalam praktik navigasi darat. Menurut Towetz, demikian beliau akrab dipanggil, jika kita memahami dan menguasai IMPK, maka tidak akan ada istilah “tersesat” bagi kita, melainkan sekedar “mengambil jalur yang lebih memutar”.

Dengan penguasaan tersebut, kita menjadi tahu persis posisi kita berada saat ini, titik awal dan titik akhir, serta rute yang telah dan akan kita tempuh mulai dari titik awal hingga titik akhir berikut kondisi medan yang akan kita jumpai; landai, tanjakan, tebing, lembah, punggung, puncak bukit atau gunung.

Berbekal pengetahuan itu, aku dan teman-teman beberapa kali melakukan pendakian gunung melalui rute yang kita tetapkan sendiri, atau istilah kami “buka jalur”.  Sebelum kegiatan berlangsung, kami mempelajari peta topografi gunung yang hendak kami daki. Selanjutnya kami menentukan rute yang hendak kami telusuri untuk mencapai puncak gunung atau sasaran akhir perjalanan.

Ini adalah satu kegiatan yang paling aku sukai. Selain karena meningkatkan ketrampilan IMPK dan survival, kegiatan ini sungguh kental unsur petualangannya. Aku berasa sangat “macho” dan “militan” dalam kegiatan ini. 😀

Jauh berbeda jika kami menempuh jalur yang sudah ada, yang sudah biasa dilalui. Saat melakukan kegiatan “buka jalur”, kami benar-benar bersiap untuk menembus “hutan perawan”. Selain peralatan dan perlengkapan yang lebih banyak, kami tentu harus lebih menguatkan mental. Namun, sudah pasti, jika kami sudah menguasai IMPK, kami boleh berharap kami tidak akan tersesat dalam pelaksanaan “buka jalur” tersebut.

Kami tahu pasti posisi kami saat itu. Kami juga tahu rute yang sudah kami tempuh dari titik keberangkatan, dan rute yang akan kami tempuh dari posisi saat itu menuju titik akhir berikut kondisi medan yang akan kami jumpai.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan bisnis.

Banyak perusahaan yang belum menetapkan tujuan (visi) dan bagaimana tujuan itu hendak dicapai (misi). Atau mereka mungkin sudah menetapkan visi dan misi tersebut, namun kemudian hanya sebatas tercantum dalam akta perusahaan atau pada hiasan dinding di lobi kantor-kantor mereka. Artinya, apa-apa yang hendak dicapai dan bagaimana mencapainya hanya akan merupakan pernyataan dan harapan, namun entah kapan akan menjadi kenyataan.

Itu tidak ubahnya dengan para pendaki yang tersesat. Mereka tidak tahu persis posisi mereka berada terhadap titik awal keberangkatan atau titik akhir. Otomatis, mereka yang tersesat, tidak akan tahu persis kemana mereka harus bergerak. Mereka hanya bisa menduga-duga dan berharap akan menemukan jalur yang membawa mereka kembali pada peradaban.

Jika seorang pendaki tersesat bisa beresiko kehilangan nyawa, demikianlah pula sebuah perusahaan yang “tersesat”. Mereka bisa gulung tikar, bangkrut, tamat. Pun bertahan, perusahaan itu akan cenderung membuang-buang waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada pemborosan waktu dan sumber daya dalam ketersesatan.

Celakanya adalah…

Beberapa dari kita mungkin akan berlama-lama dalam ketersesatan. Bukan karena kita menikmati, melainkan karena.. Kita tidak tahu jika kita tersesat!

Kita terus berjalan, menghabiskan energi dan bekal. Ketika bekal semakin tipis dan nafas sudah tersengal-sengal, kita baru mulai bertanya-tanya: “Kok belum sampai ya?” atau “Kok kayaknya cuma ‘di sini-sini’ aja ya?” Dan kemudian mendadak kita menghadapi krisis, dan sayangnya tak lagi cukup punya tenaga untuk keluar darinya.

Tidak ada yang lebih aman ketimbang senantiasa menyadari penuh dimana posisi kita saat ini, kemana kita hendak menuju, kapan, apa saja yang akan kita hadapi, dengan cara apa dan bagaimana serta siapa melakukan apa.

Jadi, dimana posisi kita saat ini?

Manusia Normal yang Berkebutuhan Khusus

Saya punya anak sulung yang berkebutuhan khusus. Orang bilang butuh kesabaran lebih untuk membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Tidak demikian bagi saya, dan sebaliknya, aneh jika orang harus punya kesabaran lebih menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus.

Kesadaran jika si buah hati ataupun seseorang berkebutuhan khusus menghadirkan pemakluman. Pemakluman menghadirkan penerimaan, dan penerimaan menghadirkan kesabaran. Sesederhana itu.

Jadi, jika orang merasa harus lebih bersabar menghadapi anak-anak yang berkebutuhan khusus, rasanya semata-mata karena yang bersangkutan belum cukup menyadari.

Manusia-manusia yang disebut normal, apalagi berpendidikan tinggi, seringkali justru menuntut kesabaran lebih. Tak jarang mereka diharapkan dan atau diduga akan berpikir, bersikap, berucap dan bertindak sesuai dengan pendidikannya. 

Seringkali harapan atau dugaan itu tidak terwujud, dan di situlah saya merasa kita harus lebih bersabar justru kepada orang-orang yang katanya normal.

Dulu tak jarang saya melontarkan kata-kata: “Masa kayak gini saja harus dikasih tau? Atau, “Apa harus diingetin terus?” Dan kata-kata lainnya yang menunjukkan ketidaksabaran. Bahkan pernah sekali, terucap: “Kamu itu sudah goblok tapi sok tau dan ngeyelan!”. 

Saya sempat stress ketika disuruh mengelola SDM. Tensi darah yang biasanya rendah, jadi cenderung tinggi dan dulu sempat menyentuh angka 140 lebih di usia yang masih 30an. Bobot anjlok dari 95an kg jadi 75an. Orang bilang saya lebih terlihat ganteng, tapi yang bener sajalah. Masa ganteng karena penderitaan?

Itu sepenuhnya karena saya tidak sadar, tidak tahu, jika manusia-manusia normal pun berkebutuhan khusus. Saya menjadi merasa sangat asing dengan yang namanya manusia, dan saya tidak tahu bagaimana saya mesti menghadapinya. Padahal salah satu tugas dan tanggung jawab utama saya adalah mengelola dan mengembangkan SDM di tempat saya berkarya, sekaligus menjadi tanggung jawab terberat.

Ketidaktahuan saya mendorong untuk membaca lebih banyak buku, dan mengikuti kursus pelatihan serta diskusi tentang SDM. Ada 5 alat sederhana yang kemudian hingga kini masih saya gunakan untuk membantu saya dalam memahami orang lain, yaitu: DISC, Grafologi, Empati, Pikiran yang bersih dan tidak berprasangka serta.., Indera ke-6. 😀 

Pada perkembangannya, saya memiliki pandangan, jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari seseorang, kita harus terlebih dulu memahaminya. Mendorong orang lain untuk melakukan yang terbaik seringkali harus diawali dengan interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif.

IMHO, interaksi dan komunikasi yang positif dan efektif itu sendiri harus diawali dengan pemahaman akan dan penyesuaian terhadap karakter orang itu. Saya menghindari memberikan kritikan pedas kepada orang dengan karakter “entertainer”di depan orang banyak, karena itu bisa sangat men-‘demotivasi’. 

Sebaliknya jika hal yang sama saya lakukan kepada orang dengan karakter “fighter”, sangat mungkin itu justru memberikan motivasi yang besar kepada yang bersangkutan. Itu gambaran sederhananya.

Pada akhirnya, kita semua adalah pribadi yang unik dan oleh karenanya berkebutuhan khusus. Dengan demikian, hanya ada 2 jenis manusia: Manusia yang berkebutuhan khusus dan manusia yang belum menyadari jika mereka berkebutuhan khusus.

People with Dissabilities

Si Monyet

Salah satu novel favorit saya adalah “Taiko” yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa, penulis yang sama novel legendaris “Musashi”. Tidak sedikit orang penggemar Musashi yang belum pernah mendengar novel Taiko ini, padahal menurut saya, isinya jauh lebih menarik ketimbang Musashi.

Lebih dari sekedar kisah perjalanan hidup seorang tokoh Jepang, Taiko juga memaparkan strategi kepemimpinan dan perang yang hingga kini masih relevan untuk diterapkan. Tidak saja menyangkut militerisme, tapi juga bisnis, sama seperti Strategi Perang Sun Tzu.

Saya teringat novel Taiko gegara membaca berita tentang Jokowi yang secara tidak langsung mengatakan wajahnya bukanlah wajah diktator. Baca: Wajah Begini Kok Dibilang Diktator. Seperti apa sih wajah diktator? Saya sendiri tidak tahu persis. Saya juga tidak tahu sejauh mana kemiripan wajah antara Jokowi dengan wajah diktator.

Hanya memang, kita mungkin bisa sepakati satu hal, wajah Jokowi bukanlah tipikal wajah seorang model foto. Demikian pula wajah Toyotomi Hideyoshi, pemimpin besar pemersatu Jepang yang menjadi tokoh utama dalam Taiko.

Lahir dalam keluarga petani miskin, Hideyoshi kerap dijuluki “Si Monyet” oleh majikan, rekan-rekannya dan juga musuh-musuhnya. Dengan julukan itu, kita bisa langsung membayangkan jika penampilan Hideyoshi jauh dari penampilan yang memikat secara fisik dalam pandangan umum. Kurus, kerempeng, singkatnya, tidak meyakinkan.

Tapi siapa mengira? Dari seorang pesuruh, Hideyoshi mampu menjadi seorang pemimpin besar, pemersatu Jepang berkat keahliannya di bidang politik dan militer. Salah satu keahliannya adalah menaklukan musuhnya tanpa melalui peperangan melalui langkah diplomasi.

Meski dikenal memiliki karakter periang, suka bercanda dan mau merendahkan diri di hadapan musuhnya, Hideyoshi juga penuh tipu muslihat dan tak segan-segan bertindak tiada ampun kepada mereka yang melawan kehendaknya.

Saya pertama kali membaca novel Taiko ini saat SMP dan sejak itu saya berusaha untuk tidak pernah menilai orang dari penampilannya. Sangat mungkin dan seringkali penampilan adalah tipuan belaka.

Generasi Milenial, Generasi “Kurang Ajar”

Generasi Milenial, disebut juga Generasi Y, adalah generasi yang menurut beberapa definisi yang saya temui, lahir antara tahun 1980 – 2000. Itu berarti generasi yang kini berusia 17 – 37 tahun. Disebut milenial karena melewati milenium kedua sejak teori generasi ini dicetuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada tahun 1923.

Saya berinteraksi secara intensif dengan generasi milenial pertama kali pada tahun 2007 saat bertugas di sebuah radio siaran swasta. Saya merekrut muda-mudi milenial untuk meremajakan dan menyegarkan warna siaran radio tersebut baik dari sisi konten ataupun kemasan siaran.

Sebuah proses interaksi yang kemudian lumayan menahan laju perkembangan mental saya. *ngakak

Dalam kesempatan berkarya di perusahaan-perusahaan selanjutnya hingga saat ini, saya juga masih bertemu dan bekerja sama dengan generasi yang unyu-unyu itu. Cukup banyak di antara mereka yang menempati posisi manajerial.

Saya mesti berterus-terang. Ada masa-masa di waktu lampau dimana saya mengeluhkan generasi itu. Tidak bermaksud menggeneralisir, saya sering menganggap jika mereka adalah orang-orang yang ‘kurang ajar’.

Anggapan itu muncul ketika terlibat dalam proses rekrutmen, saya menjumpai muda-mudi milenial yang kurang cakap tapi sangat percaya diri. Khususnya dalam meminta gaji yang relatif tinggi. *ngakak lagi.

Bukan itu saja. Sudah minta gajinya tinggi, kerja engga disiplin, dan bentaran doank sudah mengundurkan diri.

Saat diskusi tentang SDM milenial, saya bahkan juga pernah berujar: “Jangan pernah ngarepin loyalitas dari anak-anak sekarang (milenial) deh. Loyalitas mereka hanya kepada arah kemana angin berhembus”. Ujaran itupun secara sembrono diaminin oleh teman-teman diskusi.

Ujaran yang lebih mencerminkan keputusasaan karena tidak mampu memahami bagaimana caranya menciptakan dan mempertahankan loyalitas mereka.

Berhubung perusahaan semakin bergantung pada kehadiran mereka, mau tidak mau saya harus lebih membuka pikiran, merubah sudut pandang dan lebih toleran. Lebih dari itu, saya juga mesti merubah diri jadi generasi milenial untuk bisa lebih memahami mereka.
20264801_10213936165659917_1742852548722213914_n

Pada perkembangannya, saya punya pandangan jika: Generasi milenial adalah generasi yang sangat “praktis”: prosedur standar, jam kerja, formalitas adalah hal-hal yang mengusik kenyamanan mereka, sekaligus menghambat produktivitas serta kreativitasnya.

Dan jika bicara kreativitas, generasi yang hidup dan bergelut dengan internet dan media sosial ini adalah orang-orang yang kreatif. Ini sekaligus menghadirkan tantangan bagi generasi saya untuk bisa terus memupuk dan mengembangkan serta mengarahkan kreativitas mereka.

Dalam proses kreatif itu, saya cenderung menahan diri untuk tidak mengkritisi ide-ide kreatif yang mereka munculkan. Pun jika ada ide yang cenderung tidak selaras dengan pandangan saya, ketimbang menolak atau mengkritisi, saya akan menguji ide mereka dengan mengajukan pertanyaan: “Oke, terus gimana kalo…?”.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari segala sisi, mereka pada akhirnya bisa menyimpulkan sendiri apakah ide mereka bisa diujudkan ataukah belum bisa diujudkan. Mereka sendiri yang menjadi penentu, pengambil keputusan.

Ini juga berlaku dalam menetapkan target. Generasi Mileneal adalah generasi yang menetapkan target. Maksudnya, pencapaian target akan lebih optimal jika mereka dilibatkan dalam penetapannya. Bahkan, lebih dari sekedar dilibatkan, akan lebih optimal jika mereka diarahkan untuk bisa menetapkan targetnya sendiri.

Akhir kata, pendekatan untuk generasi milenial sungguh sebuah “seni membebaskan”. Pastinya, pendekatan ala ‘jaman saya dulu’ adalah pendekatan yang akan mempercepat munculnya kesan bahwa mereka tidak cukup punya loyalitas, tidak cukup punya komitmen.

Ujung-ujungnya, kita hanya bisa komentar: “Ini orang kurang ajar banget.”

Being The Best of What? What for?

Dulu sempat dipindahtugaskan ke satu perusahaan yang selalu merugi selama 10 tahun berturut-turut. Statusnya sebagai satu anak perusahaan sebuah korporasi yang besarlah yang menjadikannya ia tetap bertahan dengan subsidi.

Ada satu karyawan penjualan yang merupakan top scorer. Penjualannya paling tinggi dibandingkan rekan satu timnya. Pencapaiannya itu jelas patut diapresiasi, namun sisi lain, sikap bangga dan berpuas dirinya mengingatkan saya akan kecenderungan perilaku banyak orang Indonesia yang saya jumpai.

Sejak jadi kuli tahun 2000 lalu, saya merasa banyak orang Indonesia yang menunjukkan kecenderungan gampang mengeluh di satu sisi, tapi juga cepat puas di sisi lain. Karyawan penjualan yang saya sebutkan di awal juga menunjukkan hal yang sama.

Jika dibandingkan dengan target individu yang harus dia capai, pencapaiannya masih jauh lebih rendah. Namun, hanya karena pencapaiannya paling tinggi, dia sudah berpuas diri dan akhirnya gampang ditebak, perkembangannya berhenti.

Tingkat kepuasannya sebatas pada “terbaik di antara yang buruk”. So tidak heran jika target penjualan tidak pernah tercapai, sementara pengeluaran selalu lebih besar dan akhirnya perusahaan selalu merugi.

Business is about being the best that you can be

Saya merasa banyak di antara kita yang menetapkan tolak ukur pencapaian berdasarkan apa yang kita lihat dan pahami di luar diri kita. Sebaliknya, sangat sedikit yang menetapkannya berdasarkan apa yang kita sadari sebagai kemampuan diri.

Gambaran sederhananya, jika perusahaan menetapkan target 10, sementara kalau kita menyadari kemampuan diri, sebenarnya kita sangat mampu mencapai angka 20, dengan sumber daya dan dukungan yang sama.

Mana target yang hendak kita sasar? Target dari perusahaan atau target dari sendiri yang lebih tinggi ketimbang target yang ditetapkan atasan?

Saya percaya mereka yang menyadari penuh kapasitas diri, tidak akan berpuas dengan target yang lebih rendah ketimbang apa yang sesungguhnya bisa mereka capai. Menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain oleh karenanya menjadi hal yang relatif tidak penting.

Jauh lebih penting adalah menyadari sepenuhnya kapasitas dan kapabilitas diri, dan meningkatkannya dari waktu ke waktu. Orang-orang seperti itu, tanpa perlu pengakuan, hampir pasti menjadi orang yang terbaik di lingkungannya.

Khususnya jika lingkungannya di Indonesia. Lingkungan dimana banyak orang yang gampang mengeluh, sekaligus cepat berpuas diri.