Do What You Like & You’ll be GREAT at It

Ketika pertama kali resmi memasuki dunia kerja tahun 2001 lalu, aku tidak pernah membayangkan seperti apa akan jadinya perjalanan hidupku. Hidup hari demi hari, demikianlah singkatnya. Segera mencari kerja, apapun pekerjaannya, adalah hal pertama yang terlintas di benakku ketika resmi menyandang status sebagai Sarjana Ilmu Politik, alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Majalah FOTOMEDIA, terbitan Kompas Gramedia, adalah pijakan pertamaku. Bergabung sebagai Account Executive di mid 2001, aku lumayan menikmati pekerjaan awalku ini, terutama sekali karena berkaitan dengan fotografi yang menjadi salah satu minat terbesarku. Ini adalah posisi dimana aku berjumpa dengan tokoh-tokoh fotografi, dan juga para pimpinan perusahaan yang bergerak di industri fototografi. Aku berkesempatan untuk mengikuti dari dekat perkembangan fotografi, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilanku di sana. Relasi yang aku dapatkan di FOTOMEDIA-pun juga berkembang. Aku masih menjalin komunikasi dengan beberapa tokoh senior fotografi hingga kini, 12 tahun setelah aku meninggalkan majalah itu.

Majalah FOTOMEDIA adalah tempat aku merasakan kegagalan pertama kali di dunia kerja. Kecintaanku pada fotografi dan antusiasmeku berjumpa dengan orang-orang yang bergelut di dunia fotografi tidak cukup mendorong penjualan iklan yang menjadi tanggung jawab utamaku sekaligus tolak ukur keberhasilanku. Akibat kegagalanku, aku hanya bisa bertahan selama 1 tahun hingga pertengahan tahun 2002. Waktu itu aku hanya beranggapan, permasalah utama pada penjualan eksemplar yang relatif rendah yang mengakibatkan efektivitas majalah FOTOMEDIA sebagai media promosi juga relatif rendah.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku mulai mendalami pengelolaan bisnis dan mengevaluasi kegagalan pertamaku itu, aku mendapati banyak faktor selain oplah yang rendah yang juga mengakibatkan kegagalanku dalam penjualan iklan FOTOMEDIA. Beberapa di antaranya adalah, aku tidak cukup mengidentifikasi demografi dan psikografi pembaca FOTOMEDIA sekaligus mengedepankan potensinya bagi perusahaan-perusahaan yang menyasar pada pasar yang sama. Sisi lain, aku juga tidak menggali lebih dalam kebutuhan para pengiklan untuk kemudian menemukan bagaimana kami, majalah FOTOMEDIA, dapat memenuhi kebutuhan para pengiklan tersebut.

Selain itu, aku juga tidak cukup mengembangkan paket-paket penawaran yang menarik disamping penawaran-penawaran yang terlalu standard. Abai bahwa setiap pengiklan punya kebutuhan khusus yang tidak terpenuhi oleh paket-paket “template”. Aku juga hanya fokus pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri fotografi, dan baru pada 2-3 bulan terakhir di masa tugasku, aku mulai menggarap perusahaan-perusahaan yang menyasar pada segmen pembaca kami.

Sungguh, satu tahun yang sangat berwarna dan memberikan banyak pembelajaran.

Lepas dari Majalah FOTOMEDIA, aku langsung pindah ke Radio Sonora, yang juga masih berinduk pada Kompas Gramedia. Aku bergabung sebagai Wartawan pada pertengahan 2002. Kurang dari sebulan, aku sudah sangat menikmati pekerjaan baruku ini. Mobilitas yang tinggi, melakukan perjalanan dinas ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, dan menjadi yang pertama yang mengetahui serta mengabarkan sebuah peristiwa atau informasi adalah hal-hal yang menjadi dasar kenikmatanku.

Aku merasa seperti tidak bekerja dan hanya sekedar melakukan hal-hal yang aku sukai, dan dibayar untuk itu! Tidakkah itu sangat menyenangkan? Kesukaan itu juga yang mendorong aku untuk mengabaikan shift kerjaku. Teman-teman di Sonora Jakarta sudah biasa mendapatiku masuk pagi, tapi masih mengirimkan laporan di malam hari. Itu menjadi hal yang sangat biasa ketika aku ditugaskan untuk “ngepos” di Istana Presiden, untuk meliput dan memberitakan kegiatan, kebijakan Presiden serta aktivitas-aktivitas lain di seputar Istana.

Bahkan pernah seorang senior menuduhku cari muka dengan bertugas jauh melampaui jam kerja. Hehehehe. Beliau lupa jika wartawan mestinya tidak ada batasan waktu kerja. Wartawan harus tuntas dalam melakukan aktivitas jurnalistik, terlepas apakah jam bekerjanya sudah atau belum berakhir. Mestinya sih beliau berterima kasih karena orang-orang seperti aku meringankan pekerjaannya.

Antusiasme itu rasanya juga menjadi pertimbangan pimpinan untuk mempromosikan jabatanku dalam waktu yang relatif singkat. Seleksi yang dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi memberikan aku tanggung jawab yang lebih luas sebagai Wakil Redaktur Pelaksana, setingkat wakil kepala bagian/departemen. Kenaikan jabatan itu aku dapatkan di awal tahun 2006, hanya dalam waktu 1,5 tahun setelah aku diangkat sebagai karyawan tetap.

Tidak lama setelah itu, aku kembali berhasil lolos seleksi untuk menerima bea siswa Management Development Program dan menjalani pendidikan selama 1 tahun di salah satu sekolah bisnis yang terbaik di Indonesia, Prasetiya Mulya Business School, Jakarta. Pendidikan dengan ikatan dinas selama 3 tahun dengan materi berupa teori dan praktik magang di 2 perusahaan di 3 wilayah: Jakarta, Depok dan Surabaya tersebut memberikan aku kesempatan untuk menggali wawasan yang sangat luas menyangkut pengelolaan dan pengembangan bisnis menyangkut aspek Produksi, Pemasaran dan Penjualan, Pengembangan SDM dan Keuangan.

Selepas pendidikan, aku kembali mendapatkan mutasi dan promosi jabatan sebagai Head of Marketing & Sales Sonora Jakarta. Selain itu, aku juga dipercaya sebagai memimpin “Performance Management Team”, sebuah tim yang dibentuk khusus untuk merumuskan dan menetapkan standar pengelolaan bisnis di seluruh jaringan Radio Sonora di lebih dari 10 kota di Indonesia.

Aku hanya sempat berkarya selama 5 bulan dalam posisi itu, sebelum kembali menjalani mutasi dan mendapatkan kenaikan jabatan. Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku berkesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru dan sangat menantang seluruh pengetahuan dan kemampuanku. Sejak Juni 2007 aku dipercaya untuk memimpin Radio Sonora sebagai Station Manager, setara General Manager yang membawahi seluruh 5 bagian yang ada: Program, Mechanical Engineering dan Technology Information, Marketing & Sales dan bagian Human Resources & General Affairs.

Radio Sonora Surabaya semula adalah Radio Salvatore yang diakuisisi Kompas Gramedia pada tahun 1997. Sejak itu hingga 2006, Radio Sonora Surabaya selalu mengalami kerugian setiap tahun dengan rata-rata kerugian lebih dari Rp 200 Juta. Nama Radio Sonora Surabaya-pun tidak muncul dalam daftar peringkat radio hasil survey Nielsen, yang artinya, pendengar Radio Sonora Surabaya jumlahnya terlalu sedikit. Dengan demikian, sudah kebayangkan jumlah dan hasil iklannya? Situasi tersebut benar-benar memunculkan tantangan yang relatif besar bagiku. Ibaratnya, baru saja turun gunung sudah harus mendapat ujian yang berat.

Puji Tuhan, atas berkat-Nya, aku berhasil mendorong teman-teman Sonora Surabaya untuk bekerja keras dan cerdas untuk menyikapi kondisi yang tidak menguntungkan tersebut. Hasilnya, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, Sonora Surabaya berhasil membukukan keuntungan operasional, yaitu di akhir tahun 2007. Sebuah hasil yang manis dari pembenahan semua aspek bisnis dalam kurun waktu Juni – Desember 2007.

Atas kinerjaku di tahun 2007 serta dipandang perlunya tanggung jawab dan kewenangan yang lebih luas untukku, Rapat Umum Pemegang Saham Tahun 2008 PT Radio Salvatore (Sonora FM) Surabaya memutuskan untuk menempatkan aku dalam jajaran direksi perusahaan. Dalam usia 31 tahun aku berhasil mencapai posisi Direktur di sebuah perusahaan di lingkungan Kompas Gramedia, korporasi media terbesar di Indonesia. Sebuah posisi yang bahkan tidak pernah aku bayangkan dan aku kejar, namun kemudian dipercayakan kepadaku.

Semua itu berawal dari kecintaanku terhadap hal-hal yang aku lakukan, yang menjadi tugas dan tanggung jawabku.

Mengejar Ocir dan Menaklukkan Bu Titik

Dari tulisanku sebelumnya “Suami Ideal adalah Pendaki Gunung”, aku sudah sampaikan jika aku meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dalam waktu yang relatif lama karena aktivitasku di luar bangku kuliah, khususnya dalam kegiatan pencinta alam dan lingkungan hidup. Satu hal yang masih aku ingat dengan baik adalah, aku sangat mungkin lulus lebih lama lagi.

Adalah seorang seniorku di Ilmu Hubungan Internasional dan juga organisasi pencinta alam yang aku ikuti, Muhammad Rico Ferajab, atau yang akrab kami panggil “Ocir”. Beliau adalah orang yang sangat berperan di balik kelulusanku. Bukan dengan dukungan semangat, dana, masukan dan sejenisnya, melainkan dengan cara dia lulus lebih awal dariku.

Begini ceritanya.

Sekitar akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000, Ocir mendadak memberitahuku jika dia hendak mengikuti ujian skripsi yang menjadi ujian akhir kuliahnya. Aku sangat terkejut mendengar pemberitahuan itu. Betapa tidak? Selama kuliah dan berkegiatan dalam organisasi pencinta alam, aku seringkali berkegiatan bersamanya dan aku tidak pernah mendengar kabar dia tengah mengerjakan skripsi. Meskipun aku tahu dia sangat cerdas (dia mengambil kuliah di 2 jurusan: Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Pariwisata), aku tidak mengira dan lumayan sulit menerima dia akan lulus lebih dulu. Ada perasaan kehilangan yang sangat kuat yang mendorong aku untuk harus segera menyusulnya.

Demikianlah kemudian aku mulai sibuk memilih topik skripsi dan konsultasi dengan dosen pembimbingku. Awalnya aku memilih judul skripsi dengan topik yang berkaitan dengan Indonesia sebagai negara maritim. Atas topik tersebut, jurusan ilmu HI menetapkan Ibu Siti Mutiah, akrab dipanggil Ibu Titik, seorang pakar Timur Tengah, sebagai dosen pembimbingku. Sebuah ketetapan yang semula sulit aku terima mengingat beliau dikenal sebagai dosen “killer’. Aku lumayan sering mendengar ada mahasiswa bimbingan beliau yang harus bolak-balik membenahi skripsinya sehingga tidak juga lulus. Aku juga sering mendengar betapa beliau dinilai “sangat pelit” dalam memberi nilai.

Apa boleh buat. Ketetapan sudah dibuat dan aku harus menjalaninya.
Jika hujan badai bisa aku lalui, masa sih aku tidak bisa mengatasi seorang ibu Titik?? Hehehe.

Perkembangan selanjutnya di luar dugaanku. Ibu Titik memang orang yang cenderung lugas dan tegas. Beliau relatif sangat perhatian pada hal-hal detil. Namun di sisi lain, aku menilai beliau sangat disiplin dan jauh lebih mudah ditemui untuk konsultasi. Hal itu sangat membantuku yang ingin segera menuntaskan skripsiku.

Ketika kemudian aku mendapati sulitnya mencari bahan skripsiku yang berkaitan dengan konsep negara maritim, aku akhirnya memutuskan untuk ganti judul. Kali ini, aku sengaja mencari judul, yang hampir pasti dosen pembimbingnya adalah Ibu Titik. Beliu sempat terlihat tidak senang ketika aku menyampaikan rencana perubahan topik skripsiku, bahkan separuh menuduh, beliau bertanya: “Kamu tidak suka ya saya bimbing?”.  Aku lumayan kaget dengan reaksi beliau dan langsung buru-buru menjelaskan jika aku memutuskan untuk merubah judul karena kesulitan mencari bahan, yang jelas merupakan kesalahanku, karena aku tidak mencoba mencari tahu sebelum menentukan judul.

Aku juga sampaikan bahwa secara khusus aku berharap beliau masih berkenan untuk menjadi dosen pembimbingku untuk judul skripsiku yang baru: “Masalah Integrasi Nasional: Studi Kasus Suku Kurdi di Irak”. Puji Tuhan, raut wajah beliau langsung berubah drastis dari kaku menjadi berseri-seri dan langsung menyanggupi harapanku. Segala sesuatunya menjadi relatif lancar sejak saat itu.

Bu Titik tetap menjadi sosok yang teliti dan “rewel”, tapi cara berkomunikasi beliau denganku sering diwarnai senyum dan keceriaan beliau yang jarang aku lihat sebelumnya. Sisi lain, aku berusaha “memelihara” mood beliau dengan cara secepat mungkin melakukan koreksi atas naskah skripsiku sesuai permintaan beliau. Itu tampaknya satu hal yang cukup beliau apresiasi. Aku selalu memastikan bahwa maksimal dalam waktu 2 hari setelah mendapat koreksi, tergantung sedikit banyaknya koreksi,  aku sudah menghubungi beliau lagi untuk minta waktu konsultasi.

“Kok cepat sekali?”, demikian pernah Bu Titik bertanya. Aku memang hanya ingin lulus secepatnya.

Akhirnya, dalam waktu sekitar 2 – 3 bulan sejak pertama aku mengajukan judul skripsi yang baru, aku berhasil menyelesaikan seluruh naskah skripsi dan siap menghadapi ujian skripsi. Hasil akhirnya adalah, berbeda dengan kabar yang sering aku terima soal pelit dalam memberi nilai, Bu Titik memberikan aku nilai “A” untuk skripsiku. Salah satu hari yang terindah dalam hidupku adalah satu hari dalam bulan Oktober tahun 2000, ketika Bu Titik memberikan aku ucapan selamat karena telah berhasil lulus ujian skripsi.

Mataku berkaca-kaca dan ingin rasanya aku memeluk dan mencium beliau. Aku berhasil menyusul kelulusan Ocir dengan relatif cepat, bahkan lebih cepat dari bayanganku semula. Kombinasi antara kecepatanku menyusun dan memperbaiki naskah serta kemudahan Bu Titik untuk meluangkan waktu memberikan bimbingan dan konsultasi.

Ceritanya pasti akan berbeda jika aku memilih menolak beliau sebagai dosen pembimbing skripsiku.

 

Suami Ideal adalah Pendaki Gunung

Suami Pendaki Gunung

Entah siapa yang membuat sticker keren ini,  tapi aku setuju banget ama kata-katanya! Hehehe..
Memasuki tahun pertama aku kuliah, tahun 1994, aku bergabung dengan Kelompok Pencinta Alam & Lingkungan Hidup Setrajana, FISIPOL UGM. Bisa dibilang, aku jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan Setrajana ketimbang di bangku kuliah. Tidak heran, jika teman-teman yang mengambil satu jurusan denganku di Ilmu Hubungan Internasional bisa lulus dalam waktu 4-5 tahun, sementara aku membutuhkan waktu 6,5 tahun untuk kemudian berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Politik. Masih ingat kan istilah “Mapala”, mahasiswa paling lama? Entah apakah saat ini istilah tersebut masih sering dikaitkan dengan anak-anak pencinta alam ataukah tidak.

Bukanlah omong kosong jika aku bilang bahwa selain pendidikan orang tua, kegiatan kepencintaalaman yang aku ikut memberikan sumbangan lebih besar ketimbang ilmu dan teori-teori yang aku peroleh di atas bangku kuliah. Kegiatan kepencintalaman tidak saja menyenangkan, melainkan juga mengembangkan kemampuan organisasional dan manajerial, bekerjasama dalam tim sekaligus juga meningkatkan kemandirian seseorang. Jangan lupakan juga penggemblengan mental yang kental dalam aktivitas kepencintaalaman, khususnya kegiatan-kegiatan yang bersifat petualangan.

Salah satu kegiatan kepencintaalaman yang paling sering aku jalankan adalah pendakian gunung. Banyak orang mungkin yang melihat pendakian gunung sekedar kegiatan petualangan belaka. Padahal pendakian gunung menyangkut banyak aktivitas yang membangun kemampuan manajerial, kepemimpinan dan team working. Pendakian yang ideal menuntut penetapan target dan rute serta jangka waktu pelaksanaan, berikut perencanaan, penganggaran dan pengadaan. Selain itu aktivitas pendakian jelas menuntut persiapan yang matang, fisik, mental, pemahaman dan penguasaan peralatan perlengkapan, medan, serta kerjasama tim.

Bidang pekerjaan manakah yang tidak menuntut hal-hal tersebut?

Para pendaki gunung harus bisa memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana yang direncanakan sekaligus siap mengantisipasi hal-hal yang di luar perencanaan, salah satunya dengan mempersiapkan bekal logistik makanan untuk jumlah hari yang lebih banyak ketimbang jumlah hari kegiatan pendakian dan juga kemampuan untuk bertahan hidup tanpa ketersediaan makanan hasil olahan manusia.

Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rencana bisa berakibat pada resiko yang tidak bisa dipandang remeh. Pendakian yang berjalan lebih lama karena medan yang sulit dan atau cuaca yang samasekali tidak bersahabat, tidak saja menguji ketahanan mental dan fisik melainkan juga beresiko pada ketersediaan perbekalan. Ancaman terhadap keselamatan menjadi hal yang harus disadari penuh dan diantisipasi sebaik mungkin.

Keberhasilan bagi para pendaki gunung mencakup 2 hal: keberhasilan mencapai target (puncak gunung) dan keberhasilan untuk mencapai homebase (pulang) dengan selamat. Apa artinya keberhasilan mencapai puncak gunung jika kemudian pulang dalam kantung jenazah? Di sinilah kegiatan petualangan sungguh menguji ketahanan dan keselarasan antara fisik, mental, spiritual dan pikiran.

Hal yang lebih menantang adalah jika kegiatan itu dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa anggota. Sebuah tim harus solid terlebih dahulu sebelum dapat bekerja sama dengan baik. Soliditas dibangun dengan menguatkan kesadaran bahwa satu sama lain sangat saling membutuhkan untuk mencapai sebuah tujuan yang sama; bahwa kekuatan dan kelebihan seorang anggota tim adalah untuk menutupi kekurangan anggota yang lain; bahwa ancaman keselamatan terhadap seorang anggota akan mengancam keselamatan tim secara keseluruhan; bahwa kegagalan seorang anggota adalah juga kegagalan tim.

Pada akhirnya pengalaman dalam pendakian-pendakian gunung yang diikuti oleh pemahaman dan penguasaan akan setiap aspeknya menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagiku dalam memasuki dunia kerja. Target dalam dunia kerja adalah bagaimana kita mencapai puncak gunung dan kembali dari pendakian dengan selamat. Kamu harus tahu apa targetnya, bagaimana mencapainya dan kapan serta dengan melibatkan siapa saja yang harus melakukan apa-apa saja, termasuk ketika dalam situasi yang terburuk sekalipun.

Oiya, bicara soal suami ideal adalah pendaki gunung, jika seorang pendaki gunung mampu menghadapi dan melewati hujan badai yang menerbangkan kerikil-kerikil yang tajam dan menyakitkan serta medan yang curam serta tebing tinggi, tentunya relatif lebih mudah baginya untuk menghadapi dan melewati badai rumah tangga. Jadi, carilah suami atau istri yang adalah pendaki gunung.

Stereotipikal Anak Kolong

Lingkungan keluarga dan pola asuh anak sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan kepribadian seseorang, termasuk aku yang dibesarkan dalam keluarga tentara. Anak kolong demikianlah biasa orang menyebut “golongan”-ku dan saudara-saudaraku. Sebagaimana biasanya pula anak kolong, aku dan para saudaraku juga biasa dididik dengan keras oleh Bapak, seorang perwira TNI idealis, alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, Jawa Tengah, tahun 1961.

Aku beruntung sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara. Mulai dari SD hingga SMA, aku dididik relatif lebih keras ketimbang kakak-kakakku yang lain. Paling sering mendapat hukuman fisik, dan paling sering disuruh “injak-injak” badan Bapak, hampir setiap hari hingga aku lulus SMA. 

Selama masih aktif sebagai perwira TNI, Bapak pernah bertugas di Timor-Timur (sekarang Timor Leste) pada masa-masa awal integrasi Timor-Timur. Salah satu dampak dari penugasan tersebut adalah Bapak hingga akhir hayatnya mengalami insomnia, kesulitan tidur dan hampir selalu terjaga dari malam hingga pagi. Salah satu cara untuk memudahkan beliau untuk tidur adalah meminta anak-anak lelakinya untuk menginjak-injak punggung dan kaki belakang beliau sampai beliau terlelap.

Entah kenapa, dibandingkan kakak-kakakku yang lain, akulah yang paling sering mendapat tugas menginjak-injak beliau, setidaknya mulai aku kelas 3 atau 4 SD. Padahal hingga SMA, tubuhku paling kurus dan kerempeng dibanding 4 kakak laki-laki. Bukan hal yang luar biasa, dan relatif rutin, Bapak membangunkan aku pada rentang waktu antara pukul 01.00 – 04.00 dini hari hanya untuk memijit atau menginjak-injak beliau. 

“Jangan mentang-mentang kamu anak bungsu, lalu maunya dimanja.” Demikian pesan yang pernah disampaikan Bapak kepadaku. Waktu pertama kali dapat pesan seperti itu sih, aku sempat membatin jika aku engga perlu dimanja tapi juga jangan mendapat perlakuan lebih keras. Hehehe.

Sikap dan cara mendidik Bapak berubah total ketika aku berhasil lolos UMPTN tahun 1994. Aku berhasil diterima di Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gajah Mada, Jogja, sesuai keinginan Bapak. Sikap beliau menjadi jauh lebih lunak dan sangat toleran. Aku bahkan diperbolehkan memanjangkan rambut hingga hampir sepinggang dan memasang tindik di telinga. Padahal, hingga aku SMA, jika rambutku sudah menyentuh dan mulai menutupi ujung daun telingaku, beliau langsung menyuruhku untuk potong rambut. Hal yang tak kalah mengagetkan adalah beliau juga tidak marah ketika aku ketahuan bertato. Beliau hanya mengungkapkan kekecewaan karena dengan adanya tato itu, hilanglah kesempatanku untuk meneruskan jejak Bapak untuk memasuki dunia kemiliteran.

Sesungguhnyalah, alasan utama-ku untuk membuat tato adalah agar aku tidak perlu meneruskan jejak Bapak menjadi anggota TNI/POLRI. Waktu aku lulus SMA, Bapak hanya memberikan aku 3 pilihan: Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, masuk AKABRI atau bekerja. Tidak ada opsi kuliah di perguruan tinggi swasta. Puji Tuhan aku berhasil lolos UMPTN, yang berarti aku tidak perlu masuk AKABRI. Namun, sejak awal aku kuliah, Bapak seringkali mendorong aku untuk menjadi Perwira TNI melalui jalur Perwira Karir. Sungguh, ide itu sangat tidak menarik buatku. Bertentangan dengan hasrat diriku akan kebebasan berpikir dan bertindak.

Selain itu, waktu itu aku ada keinginan untuk bisa mendapatkan banyak uang dengan cara yang halal. Satu hal yang aku yakini tidak akan bisa aku ujudkan jika aku menjadi anggota TNI/POLRI, setidaknya waktu itu. Keyakinan itu sendiri muncul karena didikan Bapak adalah juga hidup jujur dan sederhana.  Penghasilan beliau murni hanya dari gajinya sebagai anggota TNI yang memang pas-pasan bagi keluarga besar seperti kami. Beliau berhemat pada banyak hal untuk memastikan kami anak-anaknya dapat menempuh pendidikan tinggi.

Hmm.. Jika Bapak masih bisa melihatku saat ini dari surga, semoga beliau bangga akan pencapaianku, dan itu sudah pasti karena keberhasilan beliau mendidikku, meski mungkin dengan cara yang tidak sesuai dengan kenyamananku. Integritas, Kepemimpinan yang kuat dengan tekad yang juga kuat serta kecepatan & ketepatan bertindak adalah juga kemampuan unggul-ku yang juga buah dari pendidikan beliau.

Terima kasih Bapak.

Orang yang Biasa – biasa saja dengan Beberapa Catatan

Nanus & Teddy Bear in BW

Hallooo.. Kesan pertama apa yang muncul di benakmu ketika melihat foto potretku ini? Ini adalah foto hasil karya temanku, Elsen Lynn. Menurut dia foto ini sangat mencerminkan kepribadianku yang merupakan kombinasi yang pas antara ketegasan dan kelembutan. Hehehe.. Aku sendiri sudah berulang kali mengikuti assessment sejak aku memasuki dunia kerja pada usia 25 tahun di 2001. Aku kok engga yakin jika aku adalah kombinasi yang pas antara ketegasan dan kelembutan.

Kesan pertama yang seringkali muncul di benak orang ketika pertama kali berjumpa orang yang bertato dan bertindik di hidung, alis dan telinga adalah wajar jika cenderung negatif atau minimal meningkatkan kewaspadaan. Tapi bagaimana jika orang dengan ciri-ciri tersebut, seperti aku, tetapi memegang boneka?? Hopefully, kesan pertama adalah baik-baik saja. Beberapa orang yang mengenalku cukup baik memandangku sosok yang “nyeleneh”, aneh.  Mungkin itu justru karena mereka tidak sungguh-sungguh mengenalku dengan baik.

Aku lebih cenderung melihat diriku sebagai sosok yang biasa-biasa saja dengan beberapa catatan”. Hehehe.. Semoga tidak bikin kamu bingung. Catatannya adalah seperti yang terlihat di foto: “aku memeluk boneka”. Tapi memang, ini adalah salah satu foto diriku yang paling mencerminkan diriku. Bukan dari sisi kombinasi antara ketegasan dan kelembutan, melainkan lebih mencerminkan sebuah nilai yang aku pegang selama ini: “Jangan pernah menilai buku dari sampulnya saja.” Itu adalah yang pertama dan terutama.

Selain itu, ada beberapa hal yang memang tercermin dari foto itu, antara lain:
1. Aku lebih menyukai suasana, komunikasi dan interaksi yang informal.
2. Aku tidak terlalu menikmati suasana yang ramai dan hingar bingar serta berada di antara banyak orang.
3. Aku sangat menikmati ruang pribadi dan ruang bergerak yang relatif leluasa.
4. Aku jauh lebih suka bergerak di balik layar.
5. Tidak perlu berbasa-basi denganku karena aku bukan orang yang suka basa-basi pula.
6. “Makhluk yang aku biarkan sedemikian dekat dan melekat denganku hanyalah boneka”. Itu jelas adalah ungkapan yang berlebihan. Hehehe.. Pesan yang tersirat adalah aku banyak memiliki teman yang cukup dekat, yang cukup aku kenal baik, tapi hanya segelintir yang masuk dalam kategori “sahabat”.
7. Mereka yang bisa menjadi sahabatku adalah mereka yang punya pemikiran yang terbuka, yang tidak bermasalah dengan cara pandangku, yang kata beberapa orang, terkadang berbeda dengan pandangan kebanyakan orang.
8. Aku mengagumi kecerdasan, asertivitas, sekaligus ketulusan dan kelembutan seseorang.
9. Dengan senang hati aku mendengarkan keluhan dan curhatan menyangkut masalah pribadi, bahkan jika aku berkesempatan, dengan senang hati aku juga akan berusaha membantu mencari solusinya. Namun di sisi lain, bahkan para sahabatku pun tidak banyak mengetahui kehidupan pribadiku.
10. Be nice and i’ll be nice to you, otherwise, i’ll be the last person on earth you want to deal with. “Lakukan apa yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu, dan jangan lakukan apa yang kamu tidak inginkan orang lain lakukan atau perbuat terhadapmu”. Itu adalah salah satu nilai keutamaan yang aku pegang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Lumayan menggambarkan kecenderungan sikap dan perilaku-ku kan?  Itu adalah kesan yang aku tangkap dari diriku sendiri berangkat dari pemahamanku.

Jika menurut hasil tes DISC yang pernah aku jalani tahun lalu, maka kecenderungan perilaku-ku, baik adaptatif maupun natural, adalah “Dominance” yang sangat tinggi, hampir mencapai angka maksimal, lalu berturut-turut diikuti oleh “Influence”, “Steadiness” dan “Compliance”. Beberapa rekan kerja berpandangan aku adalah sosok yang “ngotot” dan tidak bisa didebat. Padahal lebih tepatnya adalah, aku sangat menikmati diskusi, apalagi diskusi yang berdasarkan data dan fakta serta berlandaskan pada keterbukaan pikiran serta penghormatan antar setiap pribadi yang terlibat dalam diskusi. Jika terkesan ngotot, mungkin lebih karena faktor “Dominance”-nya. Hehehe.

Jadi bisa dipahami kan? Bahwa aku adalah orang yang biasa-biasa saja dengan beberapa catatan.